cerita yang dikarang sendiri

July 28, 2005

ibu

bidang: love

aku punya seorang ibu yang sangat baik
dia selalu membuatku merasa nyaman dan tenteram
ketika hatiku sakit
karena dimarahi oleh ayah yang suka mabuk dan main perempuan

aku punya ibu yang sangat sabar
kalau dia dipukuli ayah, dia diam saja
dia hanya menangis
dan berdoa semoga ayah diberi petunjuk yang benar

aku punya ibu yang pengertian
saat ayah lari dengan perempuan lain
saat ayah memuji kecantikan wanita lain
saat aku suka mengadu padanya tentang kelakuan ayah yang suka bermain dengan pelacur

aku punya ibu yang jago masak
dia bisa memasak apa saja
aku selalu suka masakannya
ayah saja yang tidak pernah suka masakannya

aku punya ibu yang sering menangis
dia menangis kalau aku nakal
dia juga menangis saat ayah pergi meninggalkannya
dia juga menangis saat aku disakiti ayah

aku sayang ibu tapi aku benci ayah
tapi aku tak mau menjadi anak yang dikutuk oleh ayah
kata ibu, aku harus berbakti dan sopan terhadap ayah
walaupun ayah sering menampar dan memukulku

aku cinta ibu
walau sekarang dia sudah tiada

July 26, 2005

pengakuan

bidang: misteri

Malam itu Anwar tergopoh-gopoh menghampiriku. “Ada hal penting yang harus kuberitahukan!” katanya.
Aku cuma mengangkat alis. Hal penting apa?
Anwar duduk disebelahku. Nafasnya memburu. Dadanya naik turun.
Sepertinya telah terjadi sesuatu.
“Nov, aku mau kasih tahu seseuatu sama kamu.”
“Kasih tahu apa?”

Aku masih terheran-heran tapi aku tidak panik. Rasanya tidak ada kata panik dalam kamus hidupku.
“Aku mau buat pengakuan!”
Anwar berbicara dengan muka pucat. Kupikir dia pasti telah buat satu kesalahan. Aku mendesah pelan.
“Pengakuan apa?”
“Denger ya. Ini penting. Ini menyangkut hubungan kita berdua.”
Aku menatap mata Anwar. Matanya menunjukkan rasa bersalah. Sekarang aku lihat bibirnya mulai membiru. Pucat sekali dia!
“Aku… punya… cewek lagi… ”
Alisku terangkat dua-duanya. Hebat! Sekarang ini yang namanya pengakuan.
“Maaf! Maafin aku, Nov! Aku tetep menghormati kamu, tetep sayang kamu, tetep cinta sama kamu, tapi… aku tergoda sama cewek lain. Mmmm… Padahal minggu depan kita bakalan merit ya… Aku memang tidak tahu diri…”
Aku menunduk. Menelan ludah. Lalu memainkan kuku-kuku jariku. Aku tidak sedih. Tidak perlu sedih.
“Maafin aku, Nov! Sumpah aku engga akan ngelakuin hal itu lagi. Aku sempat jalan… sering jalan dengan cewek itu. Aku pikir kamu engga sayang lagi sama aku jadinya aku… nembak cewek itu. Tadinya tuh cewek cuman malu-malu kucing sama aku trus lama-lama dia sayang beneran ke aku. Mungkin aku yang terlalu egois. Aku… pengen punya cewek lagi… Dan parahnya aku adalah orang yang gampang jatuh cinta. Maaf, Nov! Aku memang playboy atau brengsek atau apalah… tapi maaf sekali lagi, aku engga akan ngelakuin hal kayak gitu lagi. Aku janji. Sumpah!”
Saat kata sumpah diucapkan, Anwar membentuk huruf V dengan dua jari kanannya. Nafasnya masih memburu. Mungkin dia butuh sesuatu. “Apa kamu butuh air, An? Kayaknya kamu capek banget.”
Anwar mengangguk. Dia menyeka keringat dingin dari dahinya.
Aku berdiri dan masuk kedalam kearah dapur. Aku menuangkan air putih dingin ke dalam sebuah gelas besar.
Anwar langsung menegak air putihnya ketika gelas besar itu kusodorkan kepadanya. Sekarang air putihnya hanya bersisa setengah gelas. Dia pasti haus sekali.
Aku kembali duduk. Dengan tenang. Anwar justru tidak nyaman dengan ketenanganku. Mungkin dia berharap aku akan marah atau menangis, tapi hal seperti ini sudah sering aku alami.
“Nov, kamu marah?”
Aku menggeleng, menatap matanya, lalu berkata,”Teruskan pengakuan kamu tadi.”
Anwar menunduk. Tiba-tiba dia gemetar seperti orang yang ketakutan. Dia menelan ludah berkali-kali.
“Trus Nov, sekarang aku dah engga mikirin cewek itu lagi. Dia udah engga berarti apa-apa lagi sama aku. Cuma kamu satu-satunya sekarang yang ada dalam hatiku. Aku harap pengakuan ini tidak menghambat pernikahan kita minggu depan.”
Aku menatap matanya dengan tajam. “Tidak menghambat?”
Anwar salah tingkah. Dia menggenggam tanganku. Aku menampiknya dengan halus. “Aku tidak pernah berpikir untuk membatalkan perkawinan kita, An. Apapun yang terjadi, pernikahan kita akan tetap dilangsungkan sesuai jadwal.” tukasku. Anwar terkejut mendengarnya. Terkejut tapi senang. Dia mengembangkan senyumnya.
“Terima kasih, Nov. Kamu memang sangat pengertian. Beruntung punya istri seperti kamu.”
Aku tersenyum. Kami berciuman.
Baguslah! Sesuai rencana.
Anwar menyeka keringat di dahinya.
“Aneh! Dari tadi kok keringat dingin terus sih? Kira-kira aku kenapa ya, Nov?”
Aku menggeleng. “Mungkin kamu akan kena flu… atau lagi engga enak badan?” Aku memegang dahinya. Tidak panas.
“Iya nih! Rasanya aneh! Rasanya nafasku jadi kacau dan terus keluar keringet dingin. Mungkin aku kecapekan ya…”
“Ya sudah kalo capek, kamu pulang aja..”

Anwar menggeleng mendengar nasihatku. “Aku mau disini aja. Sama kamu. Rasanya juga badan ini jadi kaku. Berat banget digerakkin!”
“Kamu pasti bakalan flu… Pasti kecapekan.”
Anwar mengangkat bahu. Aku memainkan jari kukuku. Aku begitu kagum dengan kuku-kuku jariku. Sangat indah dan bagus. Anwar masih saja mengatur nafasnya supaya tidak ngos-ngosan.
“An…”
Saat aku panggil Anwar menoleh dengan muka pucatnya. “Apa, Nov?”
“Aku ingin nanya…. Alesan kamu ninggalin cewek itu karena apa?”
“Karena… karena aku tahu aku telah ngelakuin kesalahan… seharusnya aku tetep setia ama kamu, Nov…”
“Bukan karena dia hamil?”
Anwar terkejut mendengar pertanyaanku, tapi dia menjawabnya dengan tegas. “Engga. Karena aku tahu aku khilaf…”
“Ooo. Bukan juga karena cewek itu udah mati?”
Kali ini Anwar hampir terlonjak dari tempat duduknya. Dia pasti kaget sekali.
“Bukan! Nov, kamu kok begitu sih sama aku? Kamu bilang kamu maafin aku….”
Aku memotong. “Aku tidak bilang kalau aku maafin kamu… Jangan pura-pura An, aku tahu segalanya. Tentang kamu dan cewek itu.”
Anwar ternganga. Dia tidak bisa berkata-kata. Wajahnya makin pucat.
“Aku tahu. Kamu sejak awal sudah aku peringatkan untuk setia, tapi kamu malah mendekati cewek itu. Aku sudah berusaha untuk mengekang kebebasan kamu, tapi kamu malah makin jadi. Tapi aku salut sama kamu, kamu bisa membujuk dia sampai dia bisa hamil begitu. Awalnya kupikir, rencanaku bakalan hancur, tapi kamu malah membuat rencanaku berjalan lebih cepat.”
Anwar berusaha mengatakan sesuatu tapi tak bisa.
“Cewek itu bukan cewek biasa, An. Dia berusaha menghancurkan organisasiku. Dia adalah target yang harus aku habisi. Berkali-kali dia lolos dari tanganku. Sampai-sampai aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk melenyapkannya. Sampai ke misi selanjutnya, untuk urusan lain, aku harus berusaha menjerat hati kamu dan menjalankan misi yang jauh berbeda. Tapi engga disangka, kamu malah mengantarkan aku sama cewek itu lagi, ke musuh bebuyutan organisasi. Kukira rencanaku akan hancur oleh cewek itu… ternyata malah kamu yang menghancurkan cewek itu… Akhirnya dia mati juga… Paling tidak misiku yang paling susah bisa terselesaikan…”
Anwar masih berusaha berbicara tapi dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dia juga berusaha menggerakkan seluruh badannya tapi dia tidak kuat. Mukanya makin memutih. Keringat dinginnya makin banyak meluncur dari sekujur badannya.
Aku tersenyum menang. Aku berdiri memandangnya dengan muka penuh perhatian.
“Kasihan kamu ya… Kamu kira ini masalah biasa… Padahal ini menyangkut organisasi kami. Aku tahu kamu membunuh cewek itu supaya tidak ada yang tahu dia hamil. Dan supaya aku tidak tahu bahwa ada cewek yang sudah kamu hamili sebelum kita menikah. Sayang sekali! Kamu salah. Walaupun misiku yang lain gagal total, paling tidak misi utamaku untuk menghabisi cewek itu sudah selesai dengan skenario yang bagus!”
Anwar terlihat marah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menggenggam tangannya.
“Anwar sayang… Aku suka sama ke-play boy-an kamu. Sebentar lagi kamu akan mati. Aku sudah membubuhkan racun dalam mobilmu. Racun yang apabila dihisap, bisa mengakibatkan kematian. Tapi visum akan memperlihatkan bahwa kamu OD. Hebat kan racunnya?”
Aku melepas tangannya.
Sebentar lagi orang-orang organisasi akan datang dan mengambil mayat Anwar untuk ditaruh di sebuah kamar hotel mewah bersama dengan mayat si cewek musuh bebuyutanku.

July 22, 2005

Anya

bidang: love

“Pernahkah kamu melihat bulan dari dekat?”
“Blum pernah…”
“Sebentar lagi kau akan lihat bulan dari jarak yang sangat dekat.”
“Gimana caranya?”
“Gampang. Sekarang tutup matamu. Apapun yang terjadi kamu tidak boleh membuka matamu.”
“Trus bagaimana aku bisa melihat bentuk bulan?”
“Kau akan merasakannya. Kau akan melihatnya didalam hatimu.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seseorang lelaki tua yang berkumis tebal dan sering disapa dukun pijat oleh warga kampungnya. Waktu itu usia Anya sekitar 14 tahun. Dukun pijat itu bisa memperlihatkan bentuk bulan kepadanya. Dia senang si dukun mau berbaik hati memperlihatkan bulan padanya. Dia senang tapi juga merasa aneh. Dia merasakan keanehan pada tubuhnya ketika dia memejamkan matanya rapat-rapat.

*******

“Kamu mau uang ngga?”
“Mau, Bang!”
“Ini, abang kasih duit.”
“Wah banyak betul Bang!”
“Semuanya buat kamu.”
“Asik! Semuanya buat Anya!”
“Tapi ada syaratnya, kalau kamu mau uangnya sekarang.”
“Apa Bang? Anya gak mau loh disuruh mencuri…”
“Mencuri? Kenapa harus mencuri?”
“Soalnya Anya dilarang sama emak buat nyuri!”
“Anak pinter. Abang engga nyuruh nyuri kok. Abang cuman mau kamu tiduran aja di bangku beakang.”
“Ngapain Bang? Anya gak mau bobo disitu!”
“Abang gak nyuruh kamu bobo. Abang cuman pengen kamu tidur trus meremin matanya kuat-kuat. Nanti kalau kamu nurutin Abang, Abang kasih duitnya semua.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seorang supir berbadan kurus dekil dan sering disapa Bang Jon dikampungnya. Waktu itu usia Anya sekitar 10 tahun. Sopir itu baik sekali sampai mau memberi Anya uang. Tapi Selain rasa senang, Anya juga merasa aneh. Dia merasakan perutnya nyeri.

********

“Anya mau permen gak?”
“Mau!”
“Sini dong samperin Om!”
“Asik!”
“Tapi kalo Anya mau permen, Anya harus mau Om pangku ya!”
“Kok Anya dipangku?”
“Biar Anya enak makan permennya.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan Om Pras. Waktu itu umurnya sekitar 6 tahun. Om Pras adalah salah satu ipar dari ibunya. Om Pras senang bertandang ke rumahnya. Om Pras sering memberinya permen yang manis, tapi selalu dengan syarat harus mau dipangku. Biasanya setelah dipangku permen Anya sudah habis dan badan Anya agak sakit di bagian pinggangnya.

*******

“Tenang saja, kita bakalan nikah kok.”
“Tapi kalo engga nikah ntar gimana? Aku malu loh Mas!”
“Pasti deh. Aku kan udah sayang banget sama kamu.”
“Gombal!”
“Kok gombal? Aku jujur dari hati sanubariku.”
“Kalo sayang, kita nikah aja sekarang. Abis nikah, baru kita bisa berduaan kayak gini.”
“Sekarang kan juga bisa berduaan. Nanti pasti kita nikah kok.”
“Kapan Mas? Aku udah gak enak nih perasaannya ngelakuin begini terus.”
“Tenang aja. Aku tuh dah cinta berat sama kamu. Engga akan ninggalin kamu.”
“Janji?”
“Janji.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan Mas Edi. Waktu itu umurnya baru 17 tahun. Mas Edi sangat sayang padanya. Anya juga sangat perhatian padanya. Sampai-sampai Anya mau menemani Mas Edi di dalam kamar kontrakan Mas Edi semalaman. Hal itu tidak hanya terjadi sekali saja tapi berkali-kali.

******

“Kamu cantik banget deh…”
“Masak?”
“Iya! Kamu itu makin cantik…”
“Berarti Bapak harus bayar lebih.”
“Gampang deh! Duit itu urusan mudah! Asal kamu mau sama aku sekarang…”
“Ya udah. 3 juta ya… ”
“Boleh. Ditambah dengan belanja apa saja yang kamu suka…”
“Oke!”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seorang bapak pejabat. Pejabat itu begitu terpesona melihat Anya. Anya pun sudah setuju dengan harganya. Mereka bermalam berdua di sebuah suite yang mewah.

kotak hitam

bidang: misteri

Aku memasuki sebuah kotak yang besar. Didalam kotak itu aku menemukan ratusan pintu yang disegel. Sesuai perintah, aku memilih sebuah pintu yang berwarna hijau lumut. Pintu itu juga tersegel. Segelnya berupa gembok yang sangat besar berwarna hitam. Hitam dan berlumut. Gemboknya tidak disertai dengan kunci. Berarti aku harus melakukan sesuatu agar pintu hijau ini terbuka.
Tanganku meraih gemboknya, selain berlumut, gemboknya juga berat. Ketika gemboknya kupegang terdengar suara kelelawar neraka. Mungkin pintu ini milik bangsa kelelawar. Aku mengerti sekarang cara membuka gemboknya, tinggal merubah wujudku enjadi kelelawar neraka , mengucap beberapa kata sakti, pasti gemboknya terbuka.
Klik!
Gemboknya terbuka! Aku mendengar ratusan kelelawar menjerit ketakutan. Tinggal kubuka pintunya.
Kreeetttt!
Pintunya sangat berat dan tebal. Hebat sekali pembuat pintu ini. Kalau bawahanku yang membukanya, tenaga mereka tentu tak akan kuat. Aku saja harus mengerahkan setengah kekuatanku untuk membuka pintu ini. Kalau aku memakai kekuatan penuh, maka aku tak perlu membukanya, cukup pintunya dihancurkan saja menjadi debu…
Aku merubah wujud kelelawar menjadi wujudku yang biasa. Ruangan didalam begitu panas, sepanas lantai matahari. Terdengar bisikan-bisikan kelelawar yang merasa terusik karena kedatanganku. Mereka pasti protes karena aku sudah menerobos masuk ke pintu bangsa mereka. Tapi semua ini adalah perintah yang harus aku jalankan. Kalau ada halangan yang merintang di depanku, akan aku hancurkan dan kembalikan ke bentuk mereka semula.
Aku mengamati ruangan panas itu. Sebenarnya ruangan ini hanya manipulasi dari ruangan sebenarnya. Aku sudah memasuki ratusan pintu dan ruangan-ruangan didalamnya rata-rata hanya manipulasi. Aku membaca satu kata, terdengar kepakan kelelawar yang panik, suara melengking yang menghancurkan telinga, lantai ruangan pecah dan hancur, dinding ruangan luntur, dan badai topan mengerubungiku. Satu kata ini memang sakti. Satu kata yang diperintahkan. Hancur sudah ruangan panas tadi menjadi ruangan yang sangat dingin dan hitam.
Sekarang aku harus menyentuh dindingnya. Dindingnya begitu hitam. Saat dindingnya kusentuh, dindingnya mencair. Dinding yang sangat rapuh. Setelah kusentuh, dindingnya mengantarku ke dimensi yang lain.

Aku sampai di sebuah dimensi yang berwarna. Warna-warnanya menyilaukan! Terdengar banyak isak tangis. Sedih sekali rasanya. Aku mendekat ke sebuah benda yang harus aku ambil. Benda yang sangat gampang untuk diambil, padahal benda itu sangat berharga.
Tiba saatnya benda itu aku ambil seperti yang diperintahkan. Bendanya sangat menjijikkan. Berlendir dan berlumut. Ketika kuambil, bendanya sedikit bergerak. Benda ini pasti protes padaku. Aku berusaha mendengar suara benda ini. Hmmm… tidak terdengar jelas. Aku berusaha lebih kuat untuk mendengar suaranya.
Diantara bunyi suara tangis, aku mendengar sayup-sayup sebuah permintaan.
Permintaan itu berbunyi: Tolong! Jangan diambil nyawaku sekarang! Aku belum siap untuk mati sekarang! Jangan ambil nyawaku!
Tapi aku sudah mendapatkan perintah. Dan perintah itu harus dikerjakan. Benda yang penuh lendir dan makin berlumut itu kugenggam kuat. Lalu aku masuki ruangan yang dingin dan hitam tadi. Sekejap ruangan itu berubah panas. Aku melangkah menuju pintu hijau yang berat, keluar dari ruangan panas dan menutup pintu hijaunya. Ketika kututup, gemboknya langsung terkunci sendiri.
Aku membawa benda berlendir dan makin berlumut itu pergi dari kotak.

July 19, 2005

Obrolan selepas senja

bidang: love

Aku ingat saat itu. Saat aku bertemu dengan Retno. Kami bercakap-cakap seperti biasa, padahal kami sama-sama merasakan satu perasaan yang pahit.

Waktu itu hari menjelang senja. Matahari mulai turun dari singgasananya. Aku dan Retno duduk di teras rumahku yang menghadap ke pemandangan pantai yang luas disana. Sore yang sunyi. Tapi kami berusaha mengobrol menghilangkan rasa sunyi yang menggigit itu.

Aku: Pantainya indah kan,Ret?
Retno: (mengangguk)
Aku: Tuh kan! Aku ajak kamu dari taon kemaren kesini tapi kamu engga mau sih!
Retno: Yaaa… Maaf! Habisnya kan suamiku engga ngebolehin,Vir! Lagian aku harus ngurus segala sesuatu di rumah besar itu. Sampai-sampai badanku rasanya remek.
Aku: Masak? Alasan ajah kali! Kamu ajah yang ngga mau…
Retno: Ah suwer kok, Vir! Kamu kok ga percaya gitu sih? Emangnya aku keliatan seperti pembohong?

Aku melihat Retno mencibir. Dia masih sama. Masih suka ngambek dan cepat tersinggung. Kalau sudah begitu, pasti dia mencibir.

Aku: (tertawa) Memang kamu bohong kok!
Retno: (mengangkat sebelah alisnya) Masak? Aku kok engga nyadar ya? Kapan aku bohong hayo? (tangan Retno mencubit gemas lenganku yang kurus)
Aku: Kapan pun kamu mau. Kayak sekarang ini…

Retno menatapku terheran-heran. Mungkin dia kaget nada suaraku berubah menjadi serius.

Retno: Memangnya kamu masih marah ya?
Aku: Soal apa?
Retno: (tiba-tiba emosi) Kok pura-pura engga tahu sih?
Aku: (heran) Loh kok malah marah sih?
Retno: Habisnya kamu begitu..
Aku: Begitu? Begitu bagaimana?
Retno: Kamu itu! Pura-pura engga tahu! Dari dulu kamu juga begitu!
Aku: Aduh aduh… sabar dong neng… Engga tahu soal apa?
Retno: Soal aku! Soal kita berdua!

Aku baru paham maksud Retno. Dia ingin mengenang masa-masa ketika kami masih pacaran dulu. Masa yang sulit digantikan. Masa yang merebut seluruh isi badanku.
Aku menunduk. Tak berani menatap mata Retno.

Retno: (mendesah) Bagaimana kamu bisa pura-pura engga tahu sebab aku datang kemari. Kamu kelewatan, Vir…

Aku melihat matahari makin tenggelam. Pancaran warnanya mengagumkan.

Retno: Tuh kan kamu begitu! Pura-pura engga mau dengar. Persis seperti dulu waktu aku bicara soal calon suamiku!

Aku melihat Retno mencibir. Pasti dia kesal. Mungkin dia berharap pertemuanku dengannya sekarang adalah pertemuan yang indah dan romantis. Hanya berdua menikmati pantai indah ini. Saling berbagi rasa….

Retno: (bergumam)
Aku: Kamu ngomong apa? Gak kedengeran nih…

Rasanya Retno sudah tidak marah lagi.

Retno: Dulu kita itu solid,Vir! Kemana-mana selalu berdua. Kita sering curhat. Sering ngobrol. Sering komunikasi. Tapi waktu kamu denger aku mo merit, kamu seolah makin cuek. Makin engga mau denger penjelasanku. Padahal kan kita saling suka. Kamu sayang engga sama aku?
Aku: Sayang.
Retno: Kalau kamu sayang sama aku, kenapa kamu mesti ngebiarin aku sendirian? Engga peduli saat aku mo merit? Bahkan kamu engga hadir waktu aku merit!
Aku: (menjawab pelan) Aku sedang ada tugas keluar daerah…
Retno: (memotong) Bohong!

Aku benar-benar tidak menyangka Retno akan berteriak.

Retno: (mulai terisak) Kamu menghindar dariku! Kamu engga menghargai aku! Kamu juga engga sayang lagi sama aku!
Aku: (mendesah) Sudahlah….
Retno: Mana bisa sudah? Aku masih simpan rasa kangen sama kamu sampai sekarang. Walaupun dah ada suami! Kamu tahu itu artinya apa? Aku sayang banget sama kamu, Vir…

Kali ini Retno benar-benar terisak. Air matanya mulai turun.

Aku: Aku tahu.
Retno: Kalau kamu tahu, kenapa kamu engga mencoba menghentikan semua ini. Kita berdua lagi! Bersama lagi!
Aku: Engga bisa…
Retno: (sesenggukan) Kenapa? Kenapa?
Aku: Karena cinta sejenis itu tidak bisa bersatu, Ret…

Retno menangis sejadi-jadinya. Aku menggenggam kedua tangannya. Aku tahu dia tak bisa melawan takdir untuk menikah dengan seorang lelaki. Padahal dia mencintaiku yang juga seorang perempuan sepertinya…

Matahari sudah tidur. Senja telah lewat. Senja itu sangat menyakitkan.