Obrolan selepas senja
Aku ingat saat itu. Saat aku bertemu dengan Retno. Kami bercakap-cakap seperti biasa, padahal kami sama-sama merasakan satu perasaan yang pahit.
Waktu itu hari menjelang senja. Matahari mulai turun dari singgasananya. Aku dan Retno duduk di teras rumahku yang menghadap ke pemandangan pantai yang luas disana. Sore yang sunyi. Tapi kami berusaha mengobrol menghilangkan rasa sunyi yang menggigit itu.
Aku: Pantainya indah kan,Ret?
Retno: (mengangguk)
Aku: Tuh kan! Aku ajak kamu dari taon kemaren kesini tapi kamu engga mau sih!
Retno: Yaaa… Maaf! Habisnya kan suamiku engga ngebolehin,Vir! Lagian aku harus ngurus segala sesuatu di rumah besar itu. Sampai-sampai badanku rasanya remek.
Aku: Masak? Alasan ajah kali! Kamu ajah yang ngga mau…
Retno: Ah suwer kok, Vir! Kamu kok ga percaya gitu sih? Emangnya aku keliatan seperti pembohong?
Aku melihat Retno mencibir. Dia masih sama. Masih suka ngambek dan cepat tersinggung. Kalau sudah begitu, pasti dia mencibir.
Aku: (tertawa) Memang kamu bohong kok!
Retno: (mengangkat sebelah alisnya) Masak? Aku kok engga nyadar ya? Kapan aku bohong hayo? (tangan Retno mencubit gemas lenganku yang kurus)
Aku: Kapan pun kamu mau. Kayak sekarang ini…
Retno menatapku terheran-heran. Mungkin dia kaget nada suaraku berubah menjadi serius.
Retno: Memangnya kamu masih marah ya?
Aku: Soal apa?
Retno: (tiba-tiba emosi) Kok pura-pura engga tahu sih?
Aku: (heran) Loh kok malah marah sih?
Retno: Habisnya kamu begitu..
Aku: Begitu? Begitu bagaimana?
Retno: Kamu itu! Pura-pura engga tahu! Dari dulu kamu juga begitu!
Aku: Aduh aduh… sabar dong neng… Engga tahu soal apa?
Retno: Soal aku! Soal kita berdua!
Aku baru paham maksud Retno. Dia ingin mengenang masa-masa ketika kami masih pacaran dulu. Masa yang sulit digantikan. Masa yang merebut seluruh isi badanku.
Aku menunduk. Tak berani menatap mata Retno.
Retno: (mendesah) Bagaimana kamu bisa pura-pura engga tahu sebab aku datang kemari. Kamu kelewatan, Vir…
Aku melihat matahari makin tenggelam. Pancaran warnanya mengagumkan.
Retno: Tuh kan kamu begitu! Pura-pura engga mau dengar. Persis seperti dulu waktu aku bicara soal calon suamiku!
Aku melihat Retno mencibir. Pasti dia kesal. Mungkin dia berharap pertemuanku dengannya sekarang adalah pertemuan yang indah dan romantis. Hanya berdua menikmati pantai indah ini. Saling berbagi rasa….
Retno: (bergumam)
Aku: Kamu ngomong apa? Gak kedengeran nih…
Rasanya Retno sudah tidak marah lagi.
Retno: Dulu kita itu solid,Vir! Kemana-mana selalu berdua. Kita sering curhat. Sering ngobrol. Sering komunikasi. Tapi waktu kamu denger aku mo merit, kamu seolah makin cuek. Makin engga mau denger penjelasanku. Padahal kan kita saling suka. Kamu sayang engga sama aku?
Aku: Sayang.
Retno: Kalau kamu sayang sama aku, kenapa kamu mesti ngebiarin aku sendirian? Engga peduli saat aku mo merit? Bahkan kamu engga hadir waktu aku merit!
Aku: (menjawab pelan) Aku sedang ada tugas keluar daerah…
Retno: (memotong) Bohong!
Aku benar-benar tidak menyangka Retno akan berteriak.
Retno: (mulai terisak) Kamu menghindar dariku! Kamu engga menghargai aku! Kamu juga engga sayang lagi sama aku!
Aku: (mendesah) Sudahlah….
Retno: Mana bisa sudah? Aku masih simpan rasa kangen sama kamu sampai sekarang. Walaupun dah ada suami! Kamu tahu itu artinya apa? Aku sayang banget sama kamu, Vir…
Kali ini Retno benar-benar terisak. Air matanya mulai turun.
Aku: Aku tahu.
Retno: Kalau kamu tahu, kenapa kamu engga mencoba menghentikan semua ini. Kita berdua lagi! Bersama lagi!
Aku: Engga bisa…
Retno: (sesenggukan) Kenapa? Kenapa?
Aku: Karena cinta sejenis itu tidak bisa bersatu, Ret…
Retno menangis sejadi-jadinya. Aku menggenggam kedua tangannya. Aku tahu dia tak bisa melawan takdir untuk menikah dengan seorang lelaki. Padahal dia mencintaiku yang juga seorang perempuan sepertinya…
Matahari sudah tidur. Senja telah lewat. Senja itu sangat menyakitkan.