cerita yang dikarang sendiri

July 22, 2005

Anya

bidang: love

“Pernahkah kamu melihat bulan dari dekat?”
“Blum pernah…”
“Sebentar lagi kau akan lihat bulan dari jarak yang sangat dekat.”
“Gimana caranya?”
“Gampang. Sekarang tutup matamu. Apapun yang terjadi kamu tidak boleh membuka matamu.”
“Trus bagaimana aku bisa melihat bentuk bulan?”
“Kau akan merasakannya. Kau akan melihatnya didalam hatimu.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seseorang lelaki tua yang berkumis tebal dan sering disapa dukun pijat oleh warga kampungnya. Waktu itu usia Anya sekitar 14 tahun. Dukun pijat itu bisa memperlihatkan bentuk bulan kepadanya. Dia senang si dukun mau berbaik hati memperlihatkan bulan padanya. Dia senang tapi juga merasa aneh. Dia merasakan keanehan pada tubuhnya ketika dia memejamkan matanya rapat-rapat.

*******

“Kamu mau uang ngga?”
“Mau, Bang!”
“Ini, abang kasih duit.”
“Wah banyak betul Bang!”
“Semuanya buat kamu.”
“Asik! Semuanya buat Anya!”
“Tapi ada syaratnya, kalau kamu mau uangnya sekarang.”
“Apa Bang? Anya gak mau loh disuruh mencuri…”
“Mencuri? Kenapa harus mencuri?”
“Soalnya Anya dilarang sama emak buat nyuri!”
“Anak pinter. Abang engga nyuruh nyuri kok. Abang cuman mau kamu tiduran aja di bangku beakang.”
“Ngapain Bang? Anya gak mau bobo disitu!”
“Abang gak nyuruh kamu bobo. Abang cuman pengen kamu tidur trus meremin matanya kuat-kuat. Nanti kalau kamu nurutin Abang, Abang kasih duitnya semua.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seorang supir berbadan kurus dekil dan sering disapa Bang Jon dikampungnya. Waktu itu usia Anya sekitar 10 tahun. Sopir itu baik sekali sampai mau memberi Anya uang. Tapi Selain rasa senang, Anya juga merasa aneh. Dia merasakan perutnya nyeri.

********

“Anya mau permen gak?”
“Mau!”
“Sini dong samperin Om!”
“Asik!”
“Tapi kalo Anya mau permen, Anya harus mau Om pangku ya!”
“Kok Anya dipangku?”
“Biar Anya enak makan permennya.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan Om Pras. Waktu itu umurnya sekitar 6 tahun. Om Pras adalah salah satu ipar dari ibunya. Om Pras senang bertandang ke rumahnya. Om Pras sering memberinya permen yang manis, tapi selalu dengan syarat harus mau dipangku. Biasanya setelah dipangku permen Anya sudah habis dan badan Anya agak sakit di bagian pinggangnya.

*******

“Tenang saja, kita bakalan nikah kok.”
“Tapi kalo engga nikah ntar gimana? Aku malu loh Mas!”
“Pasti deh. Aku kan udah sayang banget sama kamu.”
“Gombal!”
“Kok gombal? Aku jujur dari hati sanubariku.”
“Kalo sayang, kita nikah aja sekarang. Abis nikah, baru kita bisa berduaan kayak gini.”
“Sekarang kan juga bisa berduaan. Nanti pasti kita nikah kok.”
“Kapan Mas? Aku udah gak enak nih perasaannya ngelakuin begini terus.”
“Tenang aja. Aku tuh dah cinta berat sama kamu. Engga akan ninggalin kamu.”
“Janji?”
“Janji.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan Mas Edi. Waktu itu umurnya baru 17 tahun. Mas Edi sangat sayang padanya. Anya juga sangat perhatian padanya. Sampai-sampai Anya mau menemani Mas Edi di dalam kamar kontrakan Mas Edi semalaman. Hal itu tidak hanya terjadi sekali saja tapi berkali-kali.

******

“Kamu cantik banget deh…”
“Masak?”
“Iya! Kamu itu makin cantik…”
“Berarti Bapak harus bayar lebih.”
“Gampang deh! Duit itu urusan mudah! Asal kamu mau sama aku sekarang…”
“Ya udah. 3 juta ya… ”
“Boleh. Ditambah dengan belanja apa saja yang kamu suka…”
“Oke!”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seorang bapak pejabat. Pejabat itu begitu terpesona melihat Anya. Anya pun sudah setuju dengan harganya. Mereka bermalam berdua di sebuah suite yang mewah.

kotak hitam

bidang: misteri

Aku memasuki sebuah kotak yang besar. Didalam kotak itu aku menemukan ratusan pintu yang disegel. Sesuai perintah, aku memilih sebuah pintu yang berwarna hijau lumut. Pintu itu juga tersegel. Segelnya berupa gembok yang sangat besar berwarna hitam. Hitam dan berlumut. Gemboknya tidak disertai dengan kunci. Berarti aku harus melakukan sesuatu agar pintu hijau ini terbuka.
Tanganku meraih gemboknya, selain berlumut, gemboknya juga berat. Ketika gemboknya kupegang terdengar suara kelelawar neraka. Mungkin pintu ini milik bangsa kelelawar. Aku mengerti sekarang cara membuka gemboknya, tinggal merubah wujudku enjadi kelelawar neraka , mengucap beberapa kata sakti, pasti gemboknya terbuka.
Klik!
Gemboknya terbuka! Aku mendengar ratusan kelelawar menjerit ketakutan. Tinggal kubuka pintunya.
Kreeetttt!
Pintunya sangat berat dan tebal. Hebat sekali pembuat pintu ini. Kalau bawahanku yang membukanya, tenaga mereka tentu tak akan kuat. Aku saja harus mengerahkan setengah kekuatanku untuk membuka pintu ini. Kalau aku memakai kekuatan penuh, maka aku tak perlu membukanya, cukup pintunya dihancurkan saja menjadi debu…
Aku merubah wujud kelelawar menjadi wujudku yang biasa. Ruangan didalam begitu panas, sepanas lantai matahari. Terdengar bisikan-bisikan kelelawar yang merasa terusik karena kedatanganku. Mereka pasti protes karena aku sudah menerobos masuk ke pintu bangsa mereka. Tapi semua ini adalah perintah yang harus aku jalankan. Kalau ada halangan yang merintang di depanku, akan aku hancurkan dan kembalikan ke bentuk mereka semula.
Aku mengamati ruangan panas itu. Sebenarnya ruangan ini hanya manipulasi dari ruangan sebenarnya. Aku sudah memasuki ratusan pintu dan ruangan-ruangan didalamnya rata-rata hanya manipulasi. Aku membaca satu kata, terdengar kepakan kelelawar yang panik, suara melengking yang menghancurkan telinga, lantai ruangan pecah dan hancur, dinding ruangan luntur, dan badai topan mengerubungiku. Satu kata ini memang sakti. Satu kata yang diperintahkan. Hancur sudah ruangan panas tadi menjadi ruangan yang sangat dingin dan hitam.
Sekarang aku harus menyentuh dindingnya. Dindingnya begitu hitam. Saat dindingnya kusentuh, dindingnya mencair. Dinding yang sangat rapuh. Setelah kusentuh, dindingnya mengantarku ke dimensi yang lain.

Aku sampai di sebuah dimensi yang berwarna. Warna-warnanya menyilaukan! Terdengar banyak isak tangis. Sedih sekali rasanya. Aku mendekat ke sebuah benda yang harus aku ambil. Benda yang sangat gampang untuk diambil, padahal benda itu sangat berharga.
Tiba saatnya benda itu aku ambil seperti yang diperintahkan. Bendanya sangat menjijikkan. Berlendir dan berlumut. Ketika kuambil, bendanya sedikit bergerak. Benda ini pasti protes padaku. Aku berusaha mendengar suara benda ini. Hmmm… tidak terdengar jelas. Aku berusaha lebih kuat untuk mendengar suaranya.
Diantara bunyi suara tangis, aku mendengar sayup-sayup sebuah permintaan.
Permintaan itu berbunyi: Tolong! Jangan diambil nyawaku sekarang! Aku belum siap untuk mati sekarang! Jangan ambil nyawaku!
Tapi aku sudah mendapatkan perintah. Dan perintah itu harus dikerjakan. Benda yang penuh lendir dan makin berlumut itu kugenggam kuat. Lalu aku masuki ruangan yang dingin dan hitam tadi. Sekejap ruangan itu berubah panas. Aku melangkah menuju pintu hijau yang berat, keluar dari ruangan panas dan menutup pintu hijaunya. Ketika kututup, gemboknya langsung terkunci sendiri.
Aku membawa benda berlendir dan makin berlumut itu pergi dari kotak.