cerita yang dikarang sendiri

July 22, 2005

kotak hitam

bidang: misteri

Aku memasuki sebuah kotak yang besar. Didalam kotak itu aku menemukan ratusan pintu yang disegel. Sesuai perintah, aku memilih sebuah pintu yang berwarna hijau lumut. Pintu itu juga tersegel. Segelnya berupa gembok yang sangat besar berwarna hitam. Hitam dan berlumut. Gemboknya tidak disertai dengan kunci. Berarti aku harus melakukan sesuatu agar pintu hijau ini terbuka.
Tanganku meraih gemboknya, selain berlumut, gemboknya juga berat. Ketika gemboknya kupegang terdengar suara kelelawar neraka. Mungkin pintu ini milik bangsa kelelawar. Aku mengerti sekarang cara membuka gemboknya, tinggal merubah wujudku enjadi kelelawar neraka , mengucap beberapa kata sakti, pasti gemboknya terbuka.
Klik!
Gemboknya terbuka! Aku mendengar ratusan kelelawar menjerit ketakutan. Tinggal kubuka pintunya.
Kreeetttt!
Pintunya sangat berat dan tebal. Hebat sekali pembuat pintu ini. Kalau bawahanku yang membukanya, tenaga mereka tentu tak akan kuat. Aku saja harus mengerahkan setengah kekuatanku untuk membuka pintu ini. Kalau aku memakai kekuatan penuh, maka aku tak perlu membukanya, cukup pintunya dihancurkan saja menjadi debu…
Aku merubah wujud kelelawar menjadi wujudku yang biasa. Ruangan didalam begitu panas, sepanas lantai matahari. Terdengar bisikan-bisikan kelelawar yang merasa terusik karena kedatanganku. Mereka pasti protes karena aku sudah menerobos masuk ke pintu bangsa mereka. Tapi semua ini adalah perintah yang harus aku jalankan. Kalau ada halangan yang merintang di depanku, akan aku hancurkan dan kembalikan ke bentuk mereka semula.
Aku mengamati ruangan panas itu. Sebenarnya ruangan ini hanya manipulasi dari ruangan sebenarnya. Aku sudah memasuki ratusan pintu dan ruangan-ruangan didalamnya rata-rata hanya manipulasi. Aku membaca satu kata, terdengar kepakan kelelawar yang panik, suara melengking yang menghancurkan telinga, lantai ruangan pecah dan hancur, dinding ruangan luntur, dan badai topan mengerubungiku. Satu kata ini memang sakti. Satu kata yang diperintahkan. Hancur sudah ruangan panas tadi menjadi ruangan yang sangat dingin dan hitam.
Sekarang aku harus menyentuh dindingnya. Dindingnya begitu hitam. Saat dindingnya kusentuh, dindingnya mencair. Dinding yang sangat rapuh. Setelah kusentuh, dindingnya mengantarku ke dimensi yang lain.

Aku sampai di sebuah dimensi yang berwarna. Warna-warnanya menyilaukan! Terdengar banyak isak tangis. Sedih sekali rasanya. Aku mendekat ke sebuah benda yang harus aku ambil. Benda yang sangat gampang untuk diambil, padahal benda itu sangat berharga.
Tiba saatnya benda itu aku ambil seperti yang diperintahkan. Bendanya sangat menjijikkan. Berlendir dan berlumut. Ketika kuambil, bendanya sedikit bergerak. Benda ini pasti protes padaku. Aku berusaha mendengar suara benda ini. Hmmm… tidak terdengar jelas. Aku berusaha lebih kuat untuk mendengar suaranya.
Diantara bunyi suara tangis, aku mendengar sayup-sayup sebuah permintaan.
Permintaan itu berbunyi: Tolong! Jangan diambil nyawaku sekarang! Aku belum siap untuk mati sekarang! Jangan ambil nyawaku!
Tapi aku sudah mendapatkan perintah. Dan perintah itu harus dikerjakan. Benda yang penuh lendir dan makin berlumut itu kugenggam kuat. Lalu aku masuki ruangan yang dingin dan hitam tadi. Sekejap ruangan itu berubah panas. Aku melangkah menuju pintu hijau yang berat, keluar dari ruangan panas dan menutup pintu hijaunya. Ketika kututup, gemboknya langsung terkunci sendiri.
Aku membawa benda berlendir dan makin berlumut itu pergi dari kotak.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://bojongvaganza.blogsome.com/2005/07/22/3/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>