pengakuan
Malam itu Anwar tergopoh-gopoh menghampiriku. “Ada hal penting yang harus kuberitahukan!” katanya.
Aku cuma mengangkat alis. Hal penting apa?
Anwar duduk disebelahku. Nafasnya memburu. Dadanya naik turun.
Sepertinya telah terjadi sesuatu.
“Nov, aku mau kasih tahu seseuatu sama kamu.”
“Kasih tahu apa?”
Aku masih terheran-heran tapi aku tidak panik. Rasanya tidak ada kata panik dalam kamus hidupku.
“Aku mau buat pengakuan!”
Anwar berbicara dengan muka pucat. Kupikir dia pasti telah buat satu kesalahan. Aku mendesah pelan.
“Pengakuan apa?”
“Denger ya. Ini penting. Ini menyangkut hubungan kita berdua.”
Aku menatap mata Anwar. Matanya menunjukkan rasa bersalah. Sekarang aku lihat bibirnya mulai membiru. Pucat sekali dia!
“Aku… punya… cewek lagi… ”
Alisku terangkat dua-duanya. Hebat! Sekarang ini yang namanya pengakuan.
“Maaf! Maafin aku, Nov! Aku tetep menghormati kamu, tetep sayang kamu, tetep cinta sama kamu, tapi… aku tergoda sama cewek lain. Mmmm… Padahal minggu depan kita bakalan merit ya… Aku memang tidak tahu diri…”
Aku menunduk. Menelan ludah. Lalu memainkan kuku-kuku jariku. Aku tidak sedih. Tidak perlu sedih.
“Maafin aku, Nov! Sumpah aku engga akan ngelakuin hal itu lagi. Aku sempat jalan… sering jalan dengan cewek itu. Aku pikir kamu engga sayang lagi sama aku jadinya aku… nembak cewek itu. Tadinya tuh cewek cuman malu-malu kucing sama aku trus lama-lama dia sayang beneran ke aku. Mungkin aku yang terlalu egois. Aku… pengen punya cewek lagi… Dan parahnya aku adalah orang yang gampang jatuh cinta. Maaf, Nov! Aku memang playboy atau brengsek atau apalah… tapi maaf sekali lagi, aku engga akan ngelakuin hal kayak gitu lagi. Aku janji. Sumpah!”
Saat kata sumpah diucapkan, Anwar membentuk huruf V dengan dua jari kanannya. Nafasnya masih memburu. Mungkin dia butuh sesuatu. “Apa kamu butuh air, An? Kayaknya kamu capek banget.”
Anwar mengangguk. Dia menyeka keringat dingin dari dahinya.
Aku berdiri dan masuk kedalam kearah dapur. Aku menuangkan air putih dingin ke dalam sebuah gelas besar.
Anwar langsung menegak air putihnya ketika gelas besar itu kusodorkan kepadanya. Sekarang air putihnya hanya bersisa setengah gelas. Dia pasti haus sekali.
Aku kembali duduk. Dengan tenang. Anwar justru tidak nyaman dengan ketenanganku. Mungkin dia berharap aku akan marah atau menangis, tapi hal seperti ini sudah sering aku alami.
“Nov, kamu marah?”
Aku menggeleng, menatap matanya, lalu berkata,”Teruskan pengakuan kamu tadi.”
Anwar menunduk. Tiba-tiba dia gemetar seperti orang yang ketakutan. Dia menelan ludah berkali-kali.
“Trus Nov, sekarang aku dah engga mikirin cewek itu lagi. Dia udah engga berarti apa-apa lagi sama aku. Cuma kamu satu-satunya sekarang yang ada dalam hatiku. Aku harap pengakuan ini tidak menghambat pernikahan kita minggu depan.”
Aku menatap matanya dengan tajam. “Tidak menghambat?”
Anwar salah tingkah. Dia menggenggam tanganku. Aku menampiknya dengan halus. “Aku tidak pernah berpikir untuk membatalkan perkawinan kita, An. Apapun yang terjadi, pernikahan kita akan tetap dilangsungkan sesuai jadwal.” tukasku. Anwar terkejut mendengarnya. Terkejut tapi senang. Dia mengembangkan senyumnya.
“Terima kasih, Nov. Kamu memang sangat pengertian. Beruntung punya istri seperti kamu.”
Aku tersenyum. Kami berciuman.
Baguslah! Sesuai rencana.
Anwar menyeka keringat di dahinya.
“Aneh! Dari tadi kok keringat dingin terus sih? Kira-kira aku kenapa ya, Nov?”
Aku menggeleng. “Mungkin kamu akan kena flu… atau lagi engga enak badan?” Aku memegang dahinya. Tidak panas.
“Iya nih! Rasanya aneh! Rasanya nafasku jadi kacau dan terus keluar keringet dingin. Mungkin aku kecapekan ya…”
“Ya sudah kalo capek, kamu pulang aja..”
Anwar menggeleng mendengar nasihatku. “Aku mau disini aja. Sama kamu. Rasanya juga badan ini jadi kaku. Berat banget digerakkin!”
“Kamu pasti bakalan flu… Pasti kecapekan.”
Anwar mengangkat bahu. Aku memainkan jari kukuku. Aku begitu kagum dengan kuku-kuku jariku. Sangat indah dan bagus. Anwar masih saja mengatur nafasnya supaya tidak ngos-ngosan.
“An…”
Saat aku panggil Anwar menoleh dengan muka pucatnya. “Apa, Nov?”
“Aku ingin nanya…. Alesan kamu ninggalin cewek itu karena apa?”
“Karena… karena aku tahu aku telah ngelakuin kesalahan… seharusnya aku tetep setia ama kamu, Nov…”
“Bukan karena dia hamil?”
Anwar terkejut mendengar pertanyaanku, tapi dia menjawabnya dengan tegas. “Engga. Karena aku tahu aku khilaf…”
“Ooo. Bukan juga karena cewek itu udah mati?”
Kali ini Anwar hampir terlonjak dari tempat duduknya. Dia pasti kaget sekali.
“Bukan! Nov, kamu kok begitu sih sama aku? Kamu bilang kamu maafin aku….”
Aku memotong. “Aku tidak bilang kalau aku maafin kamu… Jangan pura-pura An, aku tahu segalanya. Tentang kamu dan cewek itu.”
Anwar ternganga. Dia tidak bisa berkata-kata. Wajahnya makin pucat.
“Aku tahu. Kamu sejak awal sudah aku peringatkan untuk setia, tapi kamu malah mendekati cewek itu. Aku sudah berusaha untuk mengekang kebebasan kamu, tapi kamu malah makin jadi. Tapi aku salut sama kamu, kamu bisa membujuk dia sampai dia bisa hamil begitu. Awalnya kupikir, rencanaku bakalan hancur, tapi kamu malah membuat rencanaku berjalan lebih cepat.”
Anwar berusaha mengatakan sesuatu tapi tak bisa.
“Cewek itu bukan cewek biasa, An. Dia berusaha menghancurkan organisasiku. Dia adalah target yang harus aku habisi. Berkali-kali dia lolos dari tanganku. Sampai-sampai aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk melenyapkannya. Sampai ke misi selanjutnya, untuk urusan lain, aku harus berusaha menjerat hati kamu dan menjalankan misi yang jauh berbeda. Tapi engga disangka, kamu malah mengantarkan aku sama cewek itu lagi, ke musuh bebuyutan organisasi. Kukira rencanaku akan hancur oleh cewek itu… ternyata malah kamu yang menghancurkan cewek itu… Akhirnya dia mati juga… Paling tidak misiku yang paling susah bisa terselesaikan…”
Anwar masih berusaha berbicara tapi dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dia juga berusaha menggerakkan seluruh badannya tapi dia tidak kuat. Mukanya makin memutih. Keringat dinginnya makin banyak meluncur dari sekujur badannya.
Aku tersenyum menang. Aku berdiri memandangnya dengan muka penuh perhatian.
“Kasihan kamu ya… Kamu kira ini masalah biasa… Padahal ini menyangkut organisasi kami. Aku tahu kamu membunuh cewek itu supaya tidak ada yang tahu dia hamil. Dan supaya aku tidak tahu bahwa ada cewek yang sudah kamu hamili sebelum kita menikah. Sayang sekali! Kamu salah. Walaupun misiku yang lain gagal total, paling tidak misi utamaku untuk menghabisi cewek itu sudah selesai dengan skenario yang bagus!”
Anwar terlihat marah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menggenggam tangannya.
“Anwar sayang… Aku suka sama ke-play boy-an kamu. Sebentar lagi kamu akan mati. Aku sudah membubuhkan racun dalam mobilmu. Racun yang apabila dihisap, bisa mengakibatkan kematian. Tapi visum akan memperlihatkan bahwa kamu OD. Hebat kan racunnya?”
Aku melepas tangannya.
Sebentar lagi orang-orang organisasi akan datang dan mengambil mayat Anwar untuk ditaruh di sebuah kamar hotel mewah bersama dengan mayat si cewek musuh bebuyutanku.