cerita yang dikarang sendiri

August 29, 2005

pelacur dan pekerja

Siang yang panas,
“Halo, ada dimana?”
“Lagi di kantor. Kamu?”
“Ada di Cafe X. Lagi banyak tamu.”
“Oh.”
“Kok oh? Tumben gak ke proyek, Say.”
“Yah… lagi males ke proyek.”
“Alesannya?”
“Lagi males aja. Engga mood gitu lah… Memangnya kenapa? Ngarepin aku di proyek ya?”
“Eh? Enggak kok! Marah ya?”
“Hhhh… Engga. Cuman kesel.”
“Kesel sama siapa?”
“Sama kamu.”
“Hah?”
“Soalnya kamu lagi banyak tamu. Coba kalo engga ada tamu, kan kita bisa pulang bareng…”
“Aduh, kan hari ini weekend, pasti banyak tamu Say. Maaf ya?”
“….”
“Maaf ya? Maaf… Tamuku ada lima sekarang, jadinya full ampe sore ini…”
“Hhh, ya sudah. Engga apa-apa. Aku ngerti kok.”
“Kalo gitu ya udah. Dada…”
“Dah…”
—-
Sore dihiasi dengan gerimis.
“Halo? Say, kamu udah pulang?”
“Sudah. Nih lagi dijalan… Ujan lagi!”
“Wah! Banjir dong daerah kamu?”
“Belum banjir sih. Masih gerimis. Tapi petirnya gede banget!”
“Iya nih Say! Disini juga petirnya gede. Tapi blom hujan… Masih mendung. Gelap banget!”
“Ya sudah. Kamu bisa pulang sekarang?”
“Engga bisa… Masih ada 3 tamu yang belum aku layanin Say… Maaf yah…”
“Pasti sibuk banget. Ya.. sudah. Kamu harus peduli juga ama kesehatan ya…”
“Iya. Eh udah sulu ya… Aku dipanggil nih…”
“Ya sud. Da..”
“Da…”
—–
Malam dengan hujan yang sangat deras disertai kilat dan gelegar guntur bersahutan. Malam yang menyeramkan dan dingin.
“Halo?”
“Halo… Ada apa?”
“Sudah sampe rumah ya?”
“Iya dari tadi jam 7. Kamu dah pulang?”
“Belum. Masih ada satu tamu lagi nih… Orangnya bawel! Banyak mintanya…”
“Ya.. tinggalin ajah..”
“Engga bisa Say! Nanti bos bakalan marah besar.. kamu sudah makan?”
“Blom. Lagi males makan.”
“Lho? Ntar sakit loh…”
“Habis lagi pengen ketemu kamu…”
“Maaf deh… Mungkin besok bisa…”
“Yang bener?”
“Nanti aku usahain deh Say…”
“Janji?”
“Janji deh… Udah dulu ya… Bye…”
“Dah…”
—–
Pagi yang kelabu. Tidak ada panggilan telepon. Tidak ada kata-kata sayang. Sunyi.
—–
Siang yang cerah. Telepon belum berbunyi dari dia.
—–
Sore yang indah. Senja memerah. Tidak ada kabar apapun.
—–
Malam yang bertabur bintang.
“Halo? Halo?”
“Ya halo? Loh, siapa ini?”
“Oh eh maaf! Saya temennya cewekmu. mau kasih kabar…”
“Kabar apa? Kenapa cewekku?”
“Cewekmu sekarat di rumah sakit. Dia terus menerus memanggil nama kamu. Dokter sudah engga bisa ngapa-ngapain lagi… Pendarahan hebat didaerah kelaminnya!”
“APA?”
“Kamu secepatnya kesini! Sebelum terlambat..”

August 25, 2005

arti dari sebuah kata itu

bidang: love

Kata itu muncul begitu saja antara aku dan dia. Kata itu tidak memberikan tanda-tanda sebelumnya padaku dan padanya. Bangsat itu, dia telah berani membuat kata itu nyata dimataku. Bangsat itu telah memperlihatkan sebuah kata yang terlalu semu didepan hidungku. Kata yang agung dan juga semu.
CINTA.

Hanya lima huruf. Bagiku dan si bangsat itu tidak mempunyai arti apa-apa. Tapi mempunyai sebuah ikatan. Padahal si bangsat itu tidak mau membuat suatu hubungan apapun denganku. Aku pun sepertinya tidak punya keinginan untuk terikat hanya demi seorang bangsat seperti dia.
Tapi lima huruf itu mengikat kami dengan paksa. Sangat egois! Kata itu tiba-tiba muncul dan mengikat hati kami dengan tali kawat dari baja. Sakit dan mengakibatkan kami seperti berada di dunia kami sendiri. Aku jadi tak suka. Lama-lama aku makin dekat dan merasa ingin dekat dengan si bangsat. Bahkan aku rela membiarkan semuanya menjadi miliknya. Berkali-kali aku menangis menjerit hanya gara-gara kata itu. Aku benci kata itu. Benci.
Kami makin dekat. Padahal aku tidak suka dengan si bangsat. Dia terlalu klise untuk dicintai. Dia hanya pantas dibenci. Tapi gara-gara kata itu, aku malah berbalik menyayanginya.
Kadang dalam mimpiku pun aku merindukan si bangsat. Kurang ajar sekali! Rasanya hatiku tergedor untuk bertemu dan melihat wajah si bangsat. Rasioku sama sekali diam tidak bergeming. Hanya hatiku yang diselimuti rasa yang aneh dan egois dari kata itu.
Lima huruf yang mematikan. Tidak ada yang lebih menyakitkan seperti lima huruf itu. Tidak ada yang lebih menyengsarakan hati seperti lima huruf itu. Aku tahu segalanya akan terasa perih, tapi seolah rasioku mati.
Kata yang bisa membuat jiwa raga lumpuh. Kata yang menusuk tulang, memecahkan atom, menindas otak, dan memasung hati. Kata yang seharusnya semua orang benci. Kata yang dijadikan tameng dari segala ketakutan dan sakit neraka.
C I N T A.
Si bangsat itu sangat sering menyebut kata itu. Saat kami bercinta. Saat kami marah. Saat kami bercanda. Kebiasaan buruk yang terdengar indah di telingaku. Kebiasaan yang lebih buruk ketimbang merokok atau membunuh orang.
Aku tak ingin terbelenggu kekosongan dari kata-kata itu. Aku ingin secepatnya bebas dari kurungan si bangsat. Aku ingin menghapus kata itu dari jiwa ragaku. Kata itu mengerikan dan prakteknya pun menyeramkan. Seolah aku siap diterjang dan dimakan kapan saja, oleh si bangsat atau oleh kata itu.

August 10, 2005

aku bermimpi…

bidang: misteri

Aku bermimpi…
ketika mimpiku baru mulai, aku lihat wajah ayah dan ibuku
ibu tersenyum manis padaku
dia mengucapkan kata-kata yang tidak jelas didengar

mimpiku berlanjut
tiba-tiba aku melihat wajah adik perempuanku
mukanya lucu menggemaskan
kami jadi sering main bersama

mimpiku berganti
aku dikelilingi kegelapan
aku dengar tangisan dari jauh
mereka bilang ayah dan ibuku telah mati

aku lihat adikku sekarang tidak lucu lagi
dia sering menangis
rambutnya acak-acakan

aku merasa berjalan di sebuah titian panjang
dengan rokok ditangan kananku dan botol bir di tangan kiriku
semuanya sendu
aku juga lihat heroin itu dalam jumlah yang banyak

aku masih bermimpi
tapi aku merasa melihat deras air dari dalam kepalaku
muncrat begitu saja seperti darah
kepalaku agak sakit
dan makin sakit

aku sedang bermimpi
nanti pasti aku akan bangun dari mimpiku
pasti

August 5, 2005

kakek

bidang: love

Aku menarik-narik ujung daster mama. Aku tahu mama sedang tidur, tapi aku ingin mama bangun sebentar saja untuk mendengarkan ceritaku. Akhirnya mama bangun juga. Matanya disipit-sipitkan. Dia tersenyum saat melihatku.
“Ada apa, Hid? Kok bangunin mama?”
Aku naik ke tempat tidur mama dengan hati-hati, takut papa terbangun.
“Sini, duduk di tengah.”
Aku menurut. Mama duduk dan memelukku. “Ada apa sayang? Mimpi apa?”
Aku menunduk memulai ceritaku dengan suara pelan. “Ma, aku ketemu kakek lagi…”
Mama melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan pandangan heran. “Wahid ketemu ama kakek lagi?”
Aku mengangguk takut-takut. Aku takut mama jadi marah. Mama selalu kesal kalau aku bercerita bahwa aku bertemu kakek.
Aku menunduk lebih dalam. Mama mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. “Wahid tidur aja. Udah malem. Besok kan Wahid harus sekolah… Nanti di sekolah ngantuk, gimana…”
Ternyata kali ini mama tidak marah. Mungkin karena sudah malam. Aku memeluk mama dan mencoba tidur.

—-

Pagi itu mendung menggantung. Pasti akan hujan. untung hari ini hari libur, jadi aku engga perlu sekolah basah-basahan. Tapi kalau mendung begini jadi males main. Maunya sih tidur lagi, tapi kalau tidur lagi nanti mama bisa marah.
Aku lihat mama sedang sibuk di dapur. Dia sedang asyik mencoba resep baru. Katanya sih tadi dia ingin mencoba membuat pasta italia yang asli. Aku tidak begitu paham soal pasta, tapi mungkin makanan yang enak.
Bosan sekali! Engga mau main. Hmmm ngapain ya? O ya! Nonton DVD aja! Aku mau nonton Samurai X lagi…

Wah! Diluar hujan juga akhirnya. Nonton DVD hujan-hujan begini asyik juga. Tapi engga seru kalau nontonnya sendirian! Mau manggil Aryo, pasti dia ogah kesini. Ya sudah deh. Nonton sendirian aja.
Wah udah setengah jam nih nonton, tapi mulai bosen. Aduh kok badan tiba-tiba dingin ya? Apa karena kakek mau datang lagi?
Ada yang mencolek tangan kiriku! Oh ternyata kakek. Dia tersenyum ketika aku menoleh. Seperti biasa, aku mencium tangannya lalu dia membelai rambutku dengan sayang.

Kakek memang sangat baik. Dia menemaniku nonton. Dia juga sering memelukku dan membelai rambutku. Kakek tidak pernah bicara saat aku mengajaknya bicara. Dia juga tidak pernah menjawab pertanyaanku. Dia hanya bisa menggeleng atau mengangguk. Aku pikir mungkin kakekku bisu. Tapi tidak apa, asal dia menemaniku nonton. Walaupun aku lihat kerutan dahinya makin terlihat setiap melihat adegan perkelahian.
Mama menghampiriku dengan tangan penuh mangkok. Sepertinya pasta buatannya sudah selesai. Dan kelihatannya enak. Mama duduk disebelah kananku dan menyodorkan semangkuk pasta.
“Ini. Makan dulu ya. Cobain. Ini asli buatan mama.”
Mama tersenyum lebar melihat aku menyuapkan sesendok pasta kedalam mulutku. Rasanya agak aneh tapi enak juga.
“Enak, Ma!” kataku. Senyum mama makin lebar.
“Pasti enak dong. Kan buatan mama.” Mama juga mulai makan pastanya sendiri.
Enak nih! Lumayan deh makan pasta mama sambil nonton DVD. Eh aku sampe lupa sama kakek. Aku menoleh ke kiri. Oh, kakek masih ada. Tapi tatapan matanya aneh. Tatapannya lurus ke depan, melewatiku. Saat kakek sadar aku sedang melihatnya, dia langsung menatapku dengan penuh senyuman.
Aku menawari kakek pasta, tapi kakek menggeleng.

“Kamu ngomong ama sapa sih, Hid?” Mama menegurku.
“Ngomong sama kakek, Ma.” jawabku. Ups! Aku lupa! Wah mama bisa marah nih… Tuh kan mama keselek.

—–

Mama terbaring lemah di kamar rumah sakit ini. Aku gak suka rumah sakit. Bau obat sangat menyengat! Tapi aku mau menemani mama. Kasihan dia sendirian. Hari ini papa baru menjenguk mama sekitar jam tujuh malam. Aku saja sudah bolos dua hari nih. Tapi engga apa-apa kok untuk menemani mama yang sedang sakit.

Mama menatapku dengan tatapan yang lemah. Dia terlihat pucat. Apalagi baru saja suster yang gemuk tadi menyuntiknya. Pasti suntikan obat. Mama membelai rambutku. Bibirnya kering.
“Mama mau minum?” tawarku. Mama menggeleng.
Hawa rumah sakit yang penuh obat berubah menjadi hawa yang dingin. pasti kakek datang lagi! Tuh kan bener! Dia sudah berdiri di sebelah kiriku dengan senyum khasnya. Aku mencium tangannya, dia membelai rambutku.
Sepertinya kakek agak lain hari ini. Dua hari yang lalu dia tidak seputih ini. Wajahnya lebih putih bersih dan lebih bercahaya.

“Wahid…” Mama memangil namaku pelan.
Aku menoleh melihat mama lagi.
“Mama mau tanya…”
“Tanya apa Ma?”
“… Kamu masih sering ketemu ama kakek?”
Aku mengangguk takut-takut.
“Kenapa kamu engga cerita lagi ke mama kalau kamu ketemu kakek?”
Aku terdiam. Menelan ludah. Apa mama akan marah ya?
Mama mendesah pelan. “Terakhir kamu ketemu kakek kapan sayang?”
“Mmmmm…. mmmm..”
“Ngomong aja sayang. Mama ngga akan marah…”
“Sekarang kakek juga ada disini Ma..”
Mama terkejut. “Disini? Dimana?” Mama mencari-cari sosok kakek.
“Disebelah kiri Wahid, Ma…”
Mama melihat ke sebelah kiriku dengan ragu. Alisnya berkerut. “Lagi ngapain dia sayang?”
Aku melihat kakek. Kakek sedang menatap mama! Tapi tatapannya aneh. Alis kakek berkerut-kerut. Seperti sedang menahan marah. Mulutnya komat-kamit tapi aku tidak mendengar suara apapun.
“Wahid… Kamu lihat kakek?” Mama memandangku dengan penuh keheranan. Aku merasa mama menatapku agak ngeri.
Aku mengangguk.
“Kakek lagi apa?”
“Kakek lagi liat mama…”
Mama menelan ludah. Lalu mama menunduk, sepertinya dia akan menangis. Wah ada apa nih? “Mama kenapa? Mama nangis?”
Mama menggeleng. “Kasih tahu mama, Hid. Kakek mandang mama dengan muka kayak apa?”
“Kayaknya dia marah ama mama… Mulutnya komat-kamit tapi Wahid engga denger apa-apa.”
Mama menunduk. Air matanya mulai jatuh. Aku jadi serba salah.

—–

Seminggu setelahnya aku diajak mama ke suatu tempat. Aku baru pulang sekolah, tapi tiba-tiba mama menarikku. Mau ke tempat kakek, katanya. Wah, ada apa ya?
Aku dan mama tidak pake mobil tapi pake angkot ke rumah kakek. Ternyata rumah kakek jauh juga! Butuh empat jam perjalanan! Sampai-sampai baju sekolahku tidak putih lagi.
Rumah kakek itu ternyata kecil ya. Aku belum pernah kesini. Rumah yang sederhana dengan halaman sempit. Aku melihat banyak orang berkerudung dan berpeci disana. Ada acara apa ya?
Mama menggenggam tanganku kuat-kuat. kami mulai memasuki rumah kakek, melewati kerumunan orang yang berkerudung dan berpeci. Mama terpaku saat melihat sosok yang ditutup kain ditengah ruangan.
Mama menjerit lalu memeluk sosok itu dan menyebut ‘bapak’ berkali-kali.
Mama menjerit. Dia menangis tersedu-sedu. Belum pernah aku melihat mama menangis seperti itu.

August 3, 2005

Ijah Sayur

bidang: misteri

Ijah Sayur namanya. Dia penjual sayur keliling komplek. Dia selalu membawa gerobak yang penuh berisi sayuran segar untuk dijual. Dia penjual yang gigih. Tapi orang komplek menganggap dia dungu, karena dia selalu bertindak layaknya orang o’on (tolol).
Setiap hari dia berjualan. Dikumpulkannya keuntungan yang tidak seberapa itu untuk biaya hidupnya dan emak bapaknya di kampung. Dia pekerja keras yang pendiam. Jarang sekali dia bicara. Dia hanya bicara seperlunya saja. Dia tak pernah pula memulai suatu percakapan.
Tindakannya gesit. Tapi sayangnya dia berlagak seperti orang dungu. Banyak orang yang menjulukinya ’si oneng sayur’. Ibu-ibu komplek sering menggosipkan dia, hanya sekedar untuk mencari bahan tertawaan. Pemuda berandalan sering menggoda dan mengejeknya. Anak-anak komplek juga sering mengejeknya. Hebatnya dia tidak peduli oleh semua hinaan dan cacian itu. Dia tetap berjualan dengan gigih dari hari ke hari.
Ijah Sayur mulai berjualan sejak setahun yang lalu di komplek itu. Sebelumnya memang ada tukang sayur yang suka lewat komplek itu, tapi dia lelaki yang tidak gigih. Orang komplek juga kurang menyukai lelaki tukang sayur itu karena tabiatnya jelek. Ketika Ijah Sayur mulai berjualan, mula-mula tidak ada yang membeli, tapi lama-kelamaan banyak juga yang membeli. Orang komplek suka dengan kegigihan dan keuletan Ijah. Tapi ya… itu tadi dia suka bersikap tolol.
Ijah tinggal di sebuah kontrakan di kawasan kumuh belakang komplek. Walaupun kumuh, kontrakan Ijah yang sempit itu tidak kotor. Dia sangat menjaga kebersihan. Pakaian yang dia gunakan untuk berdagang walaupun lusuh tapi tetap bersih.
Tidak ada yang menarik dari Ijah Sayur, kecuali satu peristiwa heboh yang terjadi di komplek dan melibatkannya dengan polisi…

Satu jum’at pagi yang cerah saat Ijah sayur sedang sibuk melayani ibu-ibu komplek, ada dua orang polisi yang menangkap Ijah. Ibu-ibu komplek merasa heran. Apa yang terjadi? Apalagi si Ijah ditangkap tanpa perlawanan apapun, seolah dia tahu akan ditangkap polisi. Dagangan sayurnya dibiarkan begitu saja.

Sudah dua minggu Ijah Sayur tidak kelihatan berjualan. Gerobaknya dibiarkan teronggok dekat tempat sampah komplek. Menurut kabar angin, si Ijah sedang dipenjara karena dia termasuk bandar narkoba. Ada yang bilang kalau sebenarnya dia adalah teroris.

Orang-orang komplek semuanya memang tidak pernah berhenti membicarakan tentang Ijah Sayur. Sampai setahun berikutnya, salah seorang warga komplek ditangkap oleh satuan brimob dengan tuduhan tersangka utama pengebom suatu daerah. Warga komplek sangat kaget.

Ijah Sayur tidak pernah kelihatan lagi. Tugasnya memang sudah selesai. Dia adalah seorang intel sewaan. Sifat dungunya hanyalah suatu cover yang bagus. Sebenarnya dia sangat jenius. Terlalu jenius.