Ijah Sayur
Ijah Sayur namanya. Dia penjual sayur keliling komplek. Dia selalu membawa gerobak yang penuh berisi sayuran segar untuk dijual. Dia penjual yang gigih. Tapi orang komplek menganggap dia dungu, karena dia selalu bertindak layaknya orang o’on (tolol).
Setiap hari dia berjualan. Dikumpulkannya keuntungan yang tidak seberapa itu untuk biaya hidupnya dan emak bapaknya di kampung. Dia pekerja keras yang pendiam. Jarang sekali dia bicara. Dia hanya bicara seperlunya saja. Dia tak pernah pula memulai suatu percakapan.
Tindakannya gesit. Tapi sayangnya dia berlagak seperti orang dungu. Banyak orang yang menjulukinya ’si oneng sayur’. Ibu-ibu komplek sering menggosipkan dia, hanya sekedar untuk mencari bahan tertawaan. Pemuda berandalan sering menggoda dan mengejeknya. Anak-anak komplek juga sering mengejeknya. Hebatnya dia tidak peduli oleh semua hinaan dan cacian itu. Dia tetap berjualan dengan gigih dari hari ke hari.
Ijah Sayur mulai berjualan sejak setahun yang lalu di komplek itu. Sebelumnya memang ada tukang sayur yang suka lewat komplek itu, tapi dia lelaki yang tidak gigih. Orang komplek juga kurang menyukai lelaki tukang sayur itu karena tabiatnya jelek. Ketika Ijah Sayur mulai berjualan, mula-mula tidak ada yang membeli, tapi lama-kelamaan banyak juga yang membeli. Orang komplek suka dengan kegigihan dan keuletan Ijah. Tapi ya… itu tadi dia suka bersikap tolol.
Ijah tinggal di sebuah kontrakan di kawasan kumuh belakang komplek. Walaupun kumuh, kontrakan Ijah yang sempit itu tidak kotor. Dia sangat menjaga kebersihan. Pakaian yang dia gunakan untuk berdagang walaupun lusuh tapi tetap bersih.
Tidak ada yang menarik dari Ijah Sayur, kecuali satu peristiwa heboh yang terjadi di komplek dan melibatkannya dengan polisi…
Satu jum’at pagi yang cerah saat Ijah sayur sedang sibuk melayani ibu-ibu komplek, ada dua orang polisi yang menangkap Ijah. Ibu-ibu komplek merasa heran. Apa yang terjadi? Apalagi si Ijah ditangkap tanpa perlawanan apapun, seolah dia tahu akan ditangkap polisi. Dagangan sayurnya dibiarkan begitu saja.
Sudah dua minggu Ijah Sayur tidak kelihatan berjualan. Gerobaknya dibiarkan teronggok dekat tempat sampah komplek. Menurut kabar angin, si Ijah sedang dipenjara karena dia termasuk bandar narkoba. Ada yang bilang kalau sebenarnya dia adalah teroris.
Orang-orang komplek semuanya memang tidak pernah berhenti membicarakan tentang Ijah Sayur. Sampai setahun berikutnya, salah seorang warga komplek ditangkap oleh satuan brimob dengan tuduhan tersangka utama pengebom suatu daerah. Warga komplek sangat kaget.
Ijah Sayur tidak pernah kelihatan lagi. Tugasnya memang sudah selesai. Dia adalah seorang intel sewaan. Sifat dungunya hanyalah suatu cover yang bagus. Sebenarnya dia sangat jenius. Terlalu jenius.