cerita yang dikarang sendiri

August 5, 2005

kakek

bidang: love

Aku menarik-narik ujung daster mama. Aku tahu mama sedang tidur, tapi aku ingin mama bangun sebentar saja untuk mendengarkan ceritaku. Akhirnya mama bangun juga. Matanya disipit-sipitkan. Dia tersenyum saat melihatku.
“Ada apa, Hid? Kok bangunin mama?”
Aku naik ke tempat tidur mama dengan hati-hati, takut papa terbangun.
“Sini, duduk di tengah.”
Aku menurut. Mama duduk dan memelukku. “Ada apa sayang? Mimpi apa?”
Aku menunduk memulai ceritaku dengan suara pelan. “Ma, aku ketemu kakek lagi…”
Mama melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan pandangan heran. “Wahid ketemu ama kakek lagi?”
Aku mengangguk takut-takut. Aku takut mama jadi marah. Mama selalu kesal kalau aku bercerita bahwa aku bertemu kakek.
Aku menunduk lebih dalam. Mama mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. “Wahid tidur aja. Udah malem. Besok kan Wahid harus sekolah… Nanti di sekolah ngantuk, gimana…”
Ternyata kali ini mama tidak marah. Mungkin karena sudah malam. Aku memeluk mama dan mencoba tidur.

—-

Pagi itu mendung menggantung. Pasti akan hujan. untung hari ini hari libur, jadi aku engga perlu sekolah basah-basahan. Tapi kalau mendung begini jadi males main. Maunya sih tidur lagi, tapi kalau tidur lagi nanti mama bisa marah.
Aku lihat mama sedang sibuk di dapur. Dia sedang asyik mencoba resep baru. Katanya sih tadi dia ingin mencoba membuat pasta italia yang asli. Aku tidak begitu paham soal pasta, tapi mungkin makanan yang enak.
Bosan sekali! Engga mau main. Hmmm ngapain ya? O ya! Nonton DVD aja! Aku mau nonton Samurai X lagi…

Wah! Diluar hujan juga akhirnya. Nonton DVD hujan-hujan begini asyik juga. Tapi engga seru kalau nontonnya sendirian! Mau manggil Aryo, pasti dia ogah kesini. Ya sudah deh. Nonton sendirian aja.
Wah udah setengah jam nih nonton, tapi mulai bosen. Aduh kok badan tiba-tiba dingin ya? Apa karena kakek mau datang lagi?
Ada yang mencolek tangan kiriku! Oh ternyata kakek. Dia tersenyum ketika aku menoleh. Seperti biasa, aku mencium tangannya lalu dia membelai rambutku dengan sayang.

Kakek memang sangat baik. Dia menemaniku nonton. Dia juga sering memelukku dan membelai rambutku. Kakek tidak pernah bicara saat aku mengajaknya bicara. Dia juga tidak pernah menjawab pertanyaanku. Dia hanya bisa menggeleng atau mengangguk. Aku pikir mungkin kakekku bisu. Tapi tidak apa, asal dia menemaniku nonton. Walaupun aku lihat kerutan dahinya makin terlihat setiap melihat adegan perkelahian.
Mama menghampiriku dengan tangan penuh mangkok. Sepertinya pasta buatannya sudah selesai. Dan kelihatannya enak. Mama duduk disebelah kananku dan menyodorkan semangkuk pasta.
“Ini. Makan dulu ya. Cobain. Ini asli buatan mama.”
Mama tersenyum lebar melihat aku menyuapkan sesendok pasta kedalam mulutku. Rasanya agak aneh tapi enak juga.
“Enak, Ma!” kataku. Senyum mama makin lebar.
“Pasti enak dong. Kan buatan mama.” Mama juga mulai makan pastanya sendiri.
Enak nih! Lumayan deh makan pasta mama sambil nonton DVD. Eh aku sampe lupa sama kakek. Aku menoleh ke kiri. Oh, kakek masih ada. Tapi tatapan matanya aneh. Tatapannya lurus ke depan, melewatiku. Saat kakek sadar aku sedang melihatnya, dia langsung menatapku dengan penuh senyuman.
Aku menawari kakek pasta, tapi kakek menggeleng.

“Kamu ngomong ama sapa sih, Hid?” Mama menegurku.
“Ngomong sama kakek, Ma.” jawabku. Ups! Aku lupa! Wah mama bisa marah nih… Tuh kan mama keselek.

—–

Mama terbaring lemah di kamar rumah sakit ini. Aku gak suka rumah sakit. Bau obat sangat menyengat! Tapi aku mau menemani mama. Kasihan dia sendirian. Hari ini papa baru menjenguk mama sekitar jam tujuh malam. Aku saja sudah bolos dua hari nih. Tapi engga apa-apa kok untuk menemani mama yang sedang sakit.

Mama menatapku dengan tatapan yang lemah. Dia terlihat pucat. Apalagi baru saja suster yang gemuk tadi menyuntiknya. Pasti suntikan obat. Mama membelai rambutku. Bibirnya kering.
“Mama mau minum?” tawarku. Mama menggeleng.
Hawa rumah sakit yang penuh obat berubah menjadi hawa yang dingin. pasti kakek datang lagi! Tuh kan bener! Dia sudah berdiri di sebelah kiriku dengan senyum khasnya. Aku mencium tangannya, dia membelai rambutku.
Sepertinya kakek agak lain hari ini. Dua hari yang lalu dia tidak seputih ini. Wajahnya lebih putih bersih dan lebih bercahaya.

“Wahid…” Mama memangil namaku pelan.
Aku menoleh melihat mama lagi.
“Mama mau tanya…”
“Tanya apa Ma?”
“… Kamu masih sering ketemu ama kakek?”
Aku mengangguk takut-takut.
“Kenapa kamu engga cerita lagi ke mama kalau kamu ketemu kakek?”
Aku terdiam. Menelan ludah. Apa mama akan marah ya?
Mama mendesah pelan. “Terakhir kamu ketemu kakek kapan sayang?”
“Mmmmm…. mmmm..”
“Ngomong aja sayang. Mama ngga akan marah…”
“Sekarang kakek juga ada disini Ma..”
Mama terkejut. “Disini? Dimana?” Mama mencari-cari sosok kakek.
“Disebelah kiri Wahid, Ma…”
Mama melihat ke sebelah kiriku dengan ragu. Alisnya berkerut. “Lagi ngapain dia sayang?”
Aku melihat kakek. Kakek sedang menatap mama! Tapi tatapannya aneh. Alis kakek berkerut-kerut. Seperti sedang menahan marah. Mulutnya komat-kamit tapi aku tidak mendengar suara apapun.
“Wahid… Kamu lihat kakek?” Mama memandangku dengan penuh keheranan. Aku merasa mama menatapku agak ngeri.
Aku mengangguk.
“Kakek lagi apa?”
“Kakek lagi liat mama…”
Mama menelan ludah. Lalu mama menunduk, sepertinya dia akan menangis. Wah ada apa nih? “Mama kenapa? Mama nangis?”
Mama menggeleng. “Kasih tahu mama, Hid. Kakek mandang mama dengan muka kayak apa?”
“Kayaknya dia marah ama mama… Mulutnya komat-kamit tapi Wahid engga denger apa-apa.”
Mama menunduk. Air matanya mulai jatuh. Aku jadi serba salah.

—–

Seminggu setelahnya aku diajak mama ke suatu tempat. Aku baru pulang sekolah, tapi tiba-tiba mama menarikku. Mau ke tempat kakek, katanya. Wah, ada apa ya?
Aku dan mama tidak pake mobil tapi pake angkot ke rumah kakek. Ternyata rumah kakek jauh juga! Butuh empat jam perjalanan! Sampai-sampai baju sekolahku tidak putih lagi.
Rumah kakek itu ternyata kecil ya. Aku belum pernah kesini. Rumah yang sederhana dengan halaman sempit. Aku melihat banyak orang berkerudung dan berpeci disana. Ada acara apa ya?
Mama menggenggam tanganku kuat-kuat. kami mulai memasuki rumah kakek, melewati kerumunan orang yang berkerudung dan berpeci. Mama terpaku saat melihat sosok yang ditutup kain ditengah ruangan.
Mama menjerit lalu memeluk sosok itu dan menyebut ‘bapak’ berkali-kali.
Mama menjerit. Dia menangis tersedu-sedu. Belum pernah aku melihat mama menangis seperti itu.