surat buat ayah
hai ayah
ini surat pertamaku. sebenarnya aku tak ingin menulis surat padamu. kata ibu, hal itu tidak akan berarti apa-apa bagimu. tapi aku kalau akku mencobanya tidak salah kan, Yah? toh aku kan tetap anakmu (apa kau masih menganggap aku anakmu?)
maaf ayah kalau aku bertanya seperti itu. pasalnya ayah tidak pernah menghubungiku selama 15 tahun! dari sejak aku baru berumur 5 tahun, ayah sudah menghilang. waktu itu ibu bilang ayah pergi entah kemana. lama kelamaan aku tahu kalau ayah dipenjara.
yah, ibu sangat malu dengan status ayah yang narapidana. kasihan ibu. dia diusir orang sekampung dan dilempari batu. aku juga waktu itu sempat terluka. tapi itu bukan apa-apa.
sekarang sepertinya ibu sudah bahagia dengan ayah tiriku. aku memanggilnya papa. papa sangat kaya. punya rumah besar. dan dia baik pada ibu. tapi dia jarang menyapaku, Yah. mungkin karena aku bukan anak kandungnya.
setelah 15 tahun ini, apa ayah tidak rindu? tidak ingin melihat wajahku? wajah anakmu satu-satunya? biarlah kalau ibu tidak setuju bila aku menemui ayah. yang penting aku bisa melihat ayah saja, itu sudah cukup. aku memang nekat. kata ibu, sifat nekatku adalah turunan dari sifat ayah.
terus terang aku mulai lupa wajah ayah. aku juga tidak tahu ayah dipenjara dimana. ibu tidak mau memberitahu. lalu aku bilang pada ibu, tidak ada seorang pun yang ingin kehilangan orang tua, begitu juga sebaliknya, tidak ada orang tua yang mau kehilangan anaknya.
setelah mendengar perkataanku, ibu menampar dan mencaci makiku. ah tak apalah.
aku pergi ke kampung ibu dulu. aku bertanya pada orang kampung. dengan muka mengejek mereka memberi tahu tempat ayah dipenjara sekian lama ini. aku senang mendengarnya, walau ejekan mereka memenuhi otakku.
yah, aku sangat terkejut saat tahu kalau ayah tak mau menemuiku di penjara. kenapa? aku masih anakmu kan?
aku tak ingin berhenti mencoba. aku ingin terus mencoba melihat wajah ayahku. oleh karena itu aku mengirim surat ini.
yah, tolonglah dibaca. surat ini adalah darah kerinduan anakmu.