cerita yang dikarang sendiri

January 9, 2006

Vania & Mister X “Warisan”

bidang: misteri

Vania teringat akan sms dari teman misteriusnya. Sms itu berbunyi:“Bisa telepon gw?Kayanya gw perlu pendapat lo.from mister x.” Kata-kata seperti itu pasti mengisyaratkan sesuatu, apalagi teman misteriusnya ini jarang sekali menghubunginya akhir-akhir ini. Vania buru-buru mengangkat gagang telepon dan menekan nomor Mister X.

Vania: Halo?
Mister X: Ya? Vania?
Vania: Ya. Ini gw. Lo perlu pendapat gw tentang apa?
Mister X: …. Gini, gw singkat aja. Temen gw sebut aja namanya si A, tiba-tiba diminta untuk datang ke rumah tantenya yang ada di Semarang. Si A merasa aneh soalnya engga ada angin engga ada hujan kok dia dipanggil? Lagian dia jarang berkomunikasi ama tantenya itu. Tapi herannya si A ini mau aja ke Semarang. Kayaknya dia penasaran kenapa si tante ini manggil dia.”
Vania: Oh… gitu doang…
Mister X: Gitu doang? Apa?
Vania: Mungkin masalah warisan?
Mister X: Warisan? Hmmm… mungkin juga. Bokap si A ini adalah anak tertua dan tantenya ini adalah anak kedua dari keluarga besar bokapnya. Tapi setahu gw, untuk masalah warisan itu engga bisa diomongin tanpa persetujuan bokapnya dulu, lagipula kebanyakan keluarga besar bokapnya ada di Solo. Untuk apa bicara soal warisan ama si A? Engga mungkin. Kecuali kalau tantenya punya rencana jahat ama bokapnya…
Vania: Yak! Mungkin aja ada persekongkolan. Tantenya si A ini udah punya anak?
Mister X: Engga. Belum. Mereka belum punya anak. Dan sepertinya suami tantenya itu tidak bekerja. Jadi yang membiayai keuangan praktis adalah si tante ini. Benar juga ya… ada kemungkinan kejahatan…
Vania: Yak itu yang pertama!
Mister X: Yang kedua?
Vania: Si tante ini ingin pinjam uang ke si A. Si A ini udah kerja kan?
Mister X: Yap! Dia udah setingkat manajer. Gajinya besar. Dia punya tabungan sekitar 10 juta di bank. Masalah kemungkinan kedua ini udah gw kira sejak awal, tapi…
Vania: Tapi… kemungkinan ini terlalu mudah kan? Lagian kalo si A cerita ke bokapnya bisa-bisa tantenya jadi cemoohan di keluarga besar bokapnya.
Mister X: Lo tahu gak? Gw takut si A dalam bahaya…
Vania: Memang.. tapi ada yang ketiga juga… dan ini nyeleneh…
Mister X: Nyeleneh?
Vania: Ya… hmmm…mungkin…
Mister X: Mungkin apa?
Vania: Mungkin tantenya berpikiran cabul?
Mister X: HA?
Vania: Hehehe… Mungkin si tante berpikiran kalo si A bisa membuatnya hamil?

Mister X: ENGGA MUNGKIN! Dan lagi… aku kan enggak kasih tahu kalo si A ini cowok? Kok kamu bisa tahu?
Vania: Rahasia… Pokoknya aku bisa tahu tanpa kamu kasih tahu… Hebat kan?
Mister X: Enggak hebat! Ada yang lain?
Vania: Masak kamu enggak kepikiran?
Mister X: Maksud kamu?
Vania: Semalas-malasnya kamu mikir, pasti kamu mikir yang satu ini…
Mister X: ….. Perjodohan?
Vania: Itu… kamu tahu…
Mister X: Bisa juga. Kamu tahu dari mana lagi kalo si A ini belom punya calon istri alias pacar?
Vania: Hmm… Gw memang hebat kan?
Mister X: Yah… kadang sih… Jadi cuman 4 kemungkinan?
Vania: Yap! Ke-empat itu saja yang paling mungkin. Yang lain masih samar alias enggak mungkin.
Mister X: Kadang kamu terlalu yakin…
Vania: Tapi pasti ada bahaya yang mengintai si A ini. Sebagai pengacaranya, kamu harus bisa melindungi klien kamu…
Mister X: DARIMANA KAMU TAHU KALO GW PENGACARA?
Vania: Dari suara kamu… hehehe…
Mister X: Ya sudahlah… Kalo ada perkembangan soal si A ini, aku hubungi kamu lagi…
Vania: Oke! Paling-paling kamu hubungin aku dalam 2 sampe 4 hari ini…
Mister X: Kita lihat aja… Bye…
Vania: Bye…

Dua hari kemudian saat Vania sedang iseng membaca email dari teman-temannya, dia melihat email dari Mister X. Bunyinya begini:

Dear Vania,

Kamu memang agak hebat! Si A ini memang ingin dijodohkan oleh tantenya dengan seorang gadis yang bahenol dan cuakep banget bernama B. Tapi dibelakang itu semua ternyata si tante punya niatan buruk. Kalau si A dan si B bisa dinikahkan, si tante akan membujuk si B untuk membunuh si A supaya si B punya hak juga dalam warisan dari keluarga besar bokap si A. Sang tante ternyata terlilit hutang yang besar. Dia ingin mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat.

Si A sebenarnya merasa first love sama si B karena kecantikannya, tapi dia melihat ada persekongkolan antara tantenya dan si B… Makanya dia nelepon gw. Gw telepon seorang detektif kenalan gw untuk nyelidiki kecurigaan si A. Ternyata memang benar. Ada persekongkolan untuk mendapatkan warisan. Dan pembunuhan yang direncanakan untuk si A adalah permulaan. Setelah si A, bokapnya si A pun akan dibunuh.

Semua tentang warisan… tapi ada satu kemungkinan lagi yang engga lo sebutin.

Ternyata si B adalah anak sang tante juga. Dia adalah anak diluar nikah yang si tante titipkan ke sebuah panti asuhan.

Si A sangat berterima kasih ama gw. Dia bilang, dia mo kenalan ama lo. Jadi gw kasih nomer hp lo… Boleh kan? ^_^

salam hangat,
Mister X

January 3, 2006

Vania “Hati yang Bersembunyi”

bidang: love

Pagi yang cerah. Vania duduk-duduk diterasnya. Mulutnya menikmati biskuit yang menurutnya adalah biskuit paling enak sedunia. Disebelahnya duduk seorang wanita usia 20-an bernama Esa.

Vania: Nyam nyam.. Ada apaan nih? Tumben kesini pagi-pagi?
Esa: (judes) Memangnya ngeganggu nih?
Vania: (mengeryitkan dahi) Yey! Kok marah? Cuman nanya doang kok… Nyam nyam nyam…
Esa: Hhhh.. habisnya… mangnya ganggu ya?
Vania: Nyam nyam.. Kamu tuh ya, kebiasaan deh. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan juga… orang aneh…
Esa: Hhhh…
Vania: (minum lalu bersendawa) Geeee! Hehehe (nyengir ke Esa) Maap.
Esa: (pasang muka bete) Ditutup kek mulutnya kalo sendawa gitu! Jorok banget sih cewek ini!
Vania: Ya… maap… (mengambil biskuit lagi)
Esa: Makan trus…
Vania: Nyam nyam… Jadi ada perlu apa nih?
Esa: Hhhh…

Vania: Kamu itu ya.. nyam… ditanya ada perlu apa malah ngedesah trus… Ada masalah ya?
Esa: Menurut kamu?
Vania: Tuh kan! Pertanyaan selalu dijawab dengan pertanyaan. Jeng Esa Jeng Esa.. Ckckck…
Esa: Habis… Aku ga bisa nyeritain.. tapi gw pengen cerita… tapi aku bingung mau certa ke siapa..
Vania: Kamu gak cerita juga aku dah bisa tahu kok. Nyam nyam nyam….
Esa: MASAK? (menepuk pundak Vania)
Vania: (keselek) Hhhhkkkk! (batuk-batuk)
Esa: Aduh aduh maap! Nih minumnya! Aduh.. (menyodorkan satu gelas air putih)
Vania: (minum) Aduh! Jantung gw copot! Kaget nih!
Esa: Ya… maap deh! Kan aku gak nyangka kamu bisa tahu masalah aku… Maap ya? Ya?
Vania: Berarti kita seri maapnya! Aku udah tahu masalahnya dari muka kamu gitu…
Esa: Beneran? Terus… Memangnya yang kamu tahu apa?
Vania: Kamu sedang bingung sama diri kamu sendiri.
Esa: HAH???
Vania: Waduh neng! Pelan-pelan dong suaranya kalo lagi kaget!
Esa: (berbisik) Gimana bisa aku bingung ama diriku sendiri? Yang aku bingung justru dua orang itu! Mereka yang mulai duluan. Mereka yang bikin aku bingung setengah mati. Enggak ada hari tanpa mikirin mereka….
Vania: Enggak perlu bisik-bisik. Sekarang gini jeng, mereka itu sama-sama sayang sama kamu. Mereka itu sayang lahir batin ama kamu. Terlepas kamu itu siapa dan gimana. Berarti mereka itu tulus sayang sama kamu. Kamu enggak memaksa mereka supaya mereka sayang ke kamu. Dan…. (mengambil biskuit)
Esa: Dan? Dan apa?
Vania: Dan kamu mulai bingung ama diri kamu sendiri.
Esa: (menunduk) Hmmm… mungkin ya…

Vania: Pasti! Aku bisa membaca wajah orang! Aku bisa tahu segalanya tanpa orang itu kasih tahu apapun ke aku. Jadi aku bisa tahu sebenarnya kebingungan kamu TIDAK BERALASAN SAMA SEKALI. Nyam nyam nyam…
Esa: (menelan ludah) Gluk!
Vania: Baguslah kalau kamu tahu mereka sayang sama kamu. Jalani saja kalau kamu takut salah sangka atau menyakiti salah satu dari mereka. Dan jangan lupa…
Esa: Apa? apa?
Vania: Dan jangan lupa untuk diam. Nyam nyam…
Esa: Diam? Maksud kamu apa sih?
Vania: Diam. Jangan banyak bicara. Jangan banyak bertingkah. Biasa saja. Sampai mereka sendiri yang mengutarakan isi hati mereka tentang kamu. Waktu akan membuka semua yang tersembunyi dalam hati. Inget!
Esa: Hhhhh… Kadang aku suka gak sabar…
Vania: Gak perlu sabar! Tenang aja. Dan tunggu. Biar waktu yang menjelaskan… Enak kan? Nyam nyam..
Esa: Sombong ih!
Vania: Siapa? Aku? Emang aku sombong dari sananya… Nih makan nih biskuit! Enak lagi!
Esa: (mencibir) Enggak mau! Jadi aku mesti diem aja? biasa aja? Terus nunggu…?
Vania: YAK BETUL!
Esa: hhhh… Ya sudah… Mana biskuitnya?
Vania: Loh? Tadi katanya enggak mau? Nih!