Vania “Hati yang Bersembunyi”
Pagi yang cerah. Vania duduk-duduk diterasnya. Mulutnya menikmati biskuit yang menurutnya adalah biskuit paling enak sedunia. Disebelahnya duduk seorang wanita usia 20-an bernama Esa.
Vania: Nyam nyam.. Ada apaan nih? Tumben kesini pagi-pagi?
Esa: (judes) Memangnya ngeganggu nih?
Vania: (mengeryitkan dahi) Yey! Kok marah? Cuman nanya doang kok… Nyam nyam nyam…
Esa: Hhhh.. habisnya… mangnya ganggu ya?
Vania: Nyam nyam.. Kamu tuh ya, kebiasaan deh. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan juga… orang aneh…
Esa: Hhhh…
Vania: (minum lalu bersendawa) Geeee! Hehehe (nyengir ke Esa) Maap.
Esa: (pasang muka bete) Ditutup kek mulutnya kalo sendawa gitu! Jorok banget sih cewek ini!
Vania: Ya… maap… (mengambil biskuit lagi)
Esa: Makan trus…
Vania: Nyam nyam… Jadi ada perlu apa nih?
Esa: Hhhh…
Vania: Kamu itu ya.. nyam… ditanya ada perlu apa malah ngedesah trus… Ada masalah ya?
Esa: Menurut kamu?
Vania: Tuh kan! Pertanyaan selalu dijawab dengan pertanyaan. Jeng Esa Jeng Esa.. Ckckck…
Esa: Habis… Aku ga bisa nyeritain.. tapi gw pengen cerita… tapi aku bingung mau certa ke siapa..
Vania: Kamu gak cerita juga aku dah bisa tahu kok. Nyam nyam nyam….
Esa: MASAK? (menepuk pundak Vania)
Vania: (keselek) Hhhhkkkk! (batuk-batuk)
Esa: Aduh aduh maap! Nih minumnya! Aduh.. (menyodorkan satu gelas air putih)
Vania: (minum) Aduh! Jantung gw copot! Kaget nih!
Esa: Ya… maap deh! Kan aku gak nyangka kamu bisa tahu masalah aku… Maap ya? Ya?
Vania: Berarti kita seri maapnya! Aku udah tahu masalahnya dari muka kamu gitu…
Esa: Beneran? Terus… Memangnya yang kamu tahu apa?
Vania: Kamu sedang bingung sama diri kamu sendiri.
Esa: HAH???
Vania: Waduh neng! Pelan-pelan dong suaranya kalo lagi kaget!
Esa: (berbisik) Gimana bisa aku bingung ama diriku sendiri? Yang aku bingung justru dua orang itu! Mereka yang mulai duluan. Mereka yang bikin aku bingung setengah mati. Enggak ada hari tanpa mikirin mereka….
Vania: Enggak perlu bisik-bisik. Sekarang gini jeng, mereka itu sama-sama sayang sama kamu. Mereka itu sayang lahir batin ama kamu. Terlepas kamu itu siapa dan gimana. Berarti mereka itu tulus sayang sama kamu. Kamu enggak memaksa mereka supaya mereka sayang ke kamu. Dan…. (mengambil biskuit)
Esa: Dan? Dan apa?
Vania: Dan kamu mulai bingung ama diri kamu sendiri.
Esa: (menunduk) Hmmm… mungkin ya…
Vania: Pasti! Aku bisa membaca wajah orang! Aku bisa tahu segalanya tanpa orang itu kasih tahu apapun ke aku. Jadi aku bisa tahu sebenarnya kebingungan kamu TIDAK BERALASAN SAMA SEKALI. Nyam nyam nyam…
Esa: (menelan ludah) Gluk!
Vania: Baguslah kalau kamu tahu mereka sayang sama kamu. Jalani saja kalau kamu takut salah sangka atau menyakiti salah satu dari mereka. Dan jangan lupa…
Esa: Apa? apa?
Vania: Dan jangan lupa untuk diam. Nyam nyam…
Esa: Diam? Maksud kamu apa sih?
Vania: Diam. Jangan banyak bicara. Jangan banyak bertingkah. Biasa saja. Sampai mereka sendiri yang mengutarakan isi hati mereka tentang kamu. Waktu akan membuka semua yang tersembunyi dalam hati. Inget!
Esa: Hhhhh… Kadang aku suka gak sabar…
Vania: Gak perlu sabar! Tenang aja. Dan tunggu. Biar waktu yang menjelaskan… Enak kan? Nyam nyam..
Esa: Sombong ih!
Vania: Siapa? Aku? Emang aku sombong dari sananya… Nih makan nih biskuit! Enak lagi!
Esa: (mencibir) Enggak mau! Jadi aku mesti diem aja? biasa aja? Terus nunggu…?
Vania: YAK BETUL!
Esa: hhhh… Ya sudah… Mana biskuitnya?
Vania: Loh? Tadi katanya enggak mau? Nih!
Hanya lima huruf. Bagiku dan si bangsat itu tidak mempunyai arti apa-apa. Tapi mempunyai sebuah ikatan. Padahal si bangsat itu tidak mau membuat suatu hubungan apapun denganku. Aku pun sepertinya tidak punya keinginan untuk terikat hanya demi seorang bangsat seperti dia.
Pagi itu mendung menggantung. Pasti akan hujan. untung hari ini hari libur, jadi aku engga perlu sekolah basah-basahan. Tapi kalau mendung begini jadi males main. Maunya sih tidur lagi, tapi kalau tidur lagi nanti mama bisa marah.
Mama menatapku dengan tatapan yang lemah. Dia terlihat pucat. Apalagi baru saja suster yang gemuk tadi menyuntiknya. Pasti suntikan obat. Mama membelai rambutku. Bibirnya kering.
aku punya ibu yang sangat sabar
Kali ini Retno benar-benar terisak. Air matanya mulai turun.