cerita yang dikarang sendiri

January 3, 2006

Vania “Hati yang Bersembunyi”

bidang: love

Pagi yang cerah. Vania duduk-duduk diterasnya. Mulutnya menikmati biskuit yang menurutnya adalah biskuit paling enak sedunia. Disebelahnya duduk seorang wanita usia 20-an bernama Esa.

Vania: Nyam nyam.. Ada apaan nih? Tumben kesini pagi-pagi?
Esa: (judes) Memangnya ngeganggu nih?
Vania: (mengeryitkan dahi) Yey! Kok marah? Cuman nanya doang kok… Nyam nyam nyam…
Esa: Hhhh.. habisnya… mangnya ganggu ya?
Vania: Nyam nyam.. Kamu tuh ya, kebiasaan deh. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan juga… orang aneh…
Esa: Hhhh…
Vania: (minum lalu bersendawa) Geeee! Hehehe (nyengir ke Esa) Maap.
Esa: (pasang muka bete) Ditutup kek mulutnya kalo sendawa gitu! Jorok banget sih cewek ini!
Vania: Ya… maap… (mengambil biskuit lagi)
Esa: Makan trus…
Vania: Nyam nyam… Jadi ada perlu apa nih?
Esa: Hhhh…

Vania: Kamu itu ya.. nyam… ditanya ada perlu apa malah ngedesah trus… Ada masalah ya?
Esa: Menurut kamu?
Vania: Tuh kan! Pertanyaan selalu dijawab dengan pertanyaan. Jeng Esa Jeng Esa.. Ckckck…
Esa: Habis… Aku ga bisa nyeritain.. tapi gw pengen cerita… tapi aku bingung mau certa ke siapa..
Vania: Kamu gak cerita juga aku dah bisa tahu kok. Nyam nyam nyam….
Esa: MASAK? (menepuk pundak Vania)
Vania: (keselek) Hhhhkkkk! (batuk-batuk)
Esa: Aduh aduh maap! Nih minumnya! Aduh.. (menyodorkan satu gelas air putih)
Vania: (minum) Aduh! Jantung gw copot! Kaget nih!
Esa: Ya… maap deh! Kan aku gak nyangka kamu bisa tahu masalah aku… Maap ya? Ya?
Vania: Berarti kita seri maapnya! Aku udah tahu masalahnya dari muka kamu gitu…
Esa: Beneran? Terus… Memangnya yang kamu tahu apa?
Vania: Kamu sedang bingung sama diri kamu sendiri.
Esa: HAH???
Vania: Waduh neng! Pelan-pelan dong suaranya kalo lagi kaget!
Esa: (berbisik) Gimana bisa aku bingung ama diriku sendiri? Yang aku bingung justru dua orang itu! Mereka yang mulai duluan. Mereka yang bikin aku bingung setengah mati. Enggak ada hari tanpa mikirin mereka….
Vania: Enggak perlu bisik-bisik. Sekarang gini jeng, mereka itu sama-sama sayang sama kamu. Mereka itu sayang lahir batin ama kamu. Terlepas kamu itu siapa dan gimana. Berarti mereka itu tulus sayang sama kamu. Kamu enggak memaksa mereka supaya mereka sayang ke kamu. Dan…. (mengambil biskuit)
Esa: Dan? Dan apa?
Vania: Dan kamu mulai bingung ama diri kamu sendiri.
Esa: (menunduk) Hmmm… mungkin ya…

Vania: Pasti! Aku bisa membaca wajah orang! Aku bisa tahu segalanya tanpa orang itu kasih tahu apapun ke aku. Jadi aku bisa tahu sebenarnya kebingungan kamu TIDAK BERALASAN SAMA SEKALI. Nyam nyam nyam…
Esa: (menelan ludah) Gluk!
Vania: Baguslah kalau kamu tahu mereka sayang sama kamu. Jalani saja kalau kamu takut salah sangka atau menyakiti salah satu dari mereka. Dan jangan lupa…
Esa: Apa? apa?
Vania: Dan jangan lupa untuk diam. Nyam nyam…
Esa: Diam? Maksud kamu apa sih?
Vania: Diam. Jangan banyak bicara. Jangan banyak bertingkah. Biasa saja. Sampai mereka sendiri yang mengutarakan isi hati mereka tentang kamu. Waktu akan membuka semua yang tersembunyi dalam hati. Inget!
Esa: Hhhhh… Kadang aku suka gak sabar…
Vania: Gak perlu sabar! Tenang aja. Dan tunggu. Biar waktu yang menjelaskan… Enak kan? Nyam nyam..
Esa: Sombong ih!
Vania: Siapa? Aku? Emang aku sombong dari sananya… Nih makan nih biskuit! Enak lagi!
Esa: (mencibir) Enggak mau! Jadi aku mesti diem aja? biasa aja? Terus nunggu…?
Vania: YAK BETUL!
Esa: hhhh… Ya sudah… Mana biskuitnya?
Vania: Loh? Tadi katanya enggak mau? Nih!

November 29, 2005

kaca

bidang: love

pertama kali aku melihatnya dari sebuah kaca yang tebal. dia ada disana. tersenyum. aku memandangnya tak berkedip.

hal itu terjadi dulu. dulu sekali. sampai aku lupa kapan waktunya.

sekitar 2 bulan purnama, aku melihatnya lagi dari kaca. dia masih tersenyum. aku mulai berpikir dia ini pasti orang gila. masak senyum2 aja? engga bisa ngomong apa? eh tiba2 dia mengucapkan sebuah kata lalu tersenyum lebar. aku bisa melihat deretan gigi putihnya. karena terhalang kaca jadi aku tak bisa dengar suaranya. yang aku tahu hanya tampangnya bukan suaranya. sayang sekali…

malam penuh bintang. malam yang hanya ada satu kali dalam 5 tahun. eh aku melihatnya lagi. dia masih tersenyum lebar. berkali-kali dia mengucapkan satu kata. tapi aku masih tidak mengerti apa yang dia ucapkan. suaranya kan tidak terdengar… tapi aku mulai menyukai senyum lebarnya itu.

teriknya matahari membakar lebih separuh tanah bumi ini. haus sekali rasanya. berkali-kali aku bermimpi bertemu dia. semua terasa begitu kacau. merasa ada sesuatu yang tertinggal disebuah kaca. aku melihat kaca tapi tak sekali pun bertemu dengannya. huhuhu…

ini perasaan apa ya? rindu? hehe… aku merasa sangat aneh…

akhirnya bisa juga melihatnya. senang sekali rasanya. lama sekali kami bertatapan. dia terus tersenyum, kadang tertawa. wah hebat nih. rasanya ada perasaan yang benar-benar keluar dari dalam hati untuk dia yang ada di balik kaca.

waktu itu banyak pohon tumbang karena hajaran kilat. kilat juga sempat menyambar kaca tempat aku melihat dia. kacanya jadi retak. makin hari makin retak. aku mulai cemas tak bisa melihat dia.

berhari-hari kutunggu didepan kaca. dia kok engga muncul-muncul juga. apa dia pergi?

setelah penantian panjang. dia terlihat dari kaca. kacanya sudah tidak bagus lagi. sudah setengah hancur. tapi dia tetap tersenyum walau seperti dipaksakan. aku tahu ada yang tidak beres.

malam itu angin begitu hebatnya. kacanya hancur berkeping-keping diterbangkan angin. dari sedikit pecahan kaca yang berserakan aku melihat dia. dia sudah tidak tersenyum lagi. malah menangis. hanya menangis. tidak menyebut satu kata pun. lalu dia pergi…

October 19, 2005

Pembentukan Cinta

bidang: love

A boy ask to me,”What is Love?”
I answer,”Love is pain.”

Ini cuma khayalan pengarang!!!

Dulu setelah Adam dan Hawa terbentuk, Tuhan menciptakan sesuatu yang begitu dahsyat, bernama MAUT. Saking dahsyatnya, neraka terpecah belah dan surga terkena goncangan keras. Para malaikat menangis dan semua iblis terpotong-potong. Dengan susah payah, Jibril bertanya pada Tuhan, apa yang barusan Dia buat. Tuhan menjawab satu kata yang membuat semua ciptaannya membeku.

“Aku menciptakan MAUT.”

Jibril menangis tersedu. MAUT itu seperti kutukan yang menghantui setiap makhluk yang Dia ciptakan. Selalu berdiri pada akhir setiap bab kehidupan. Adam dan Hawa sangat ketakutan melihat wujud MAUT itu.

Suasana sangat sunyi setelah MAUT diciptakan. Lalu MAUT meminta pada Tuhan satu malaikat pencabut nyawa untuk menemaninya. Tuhan mengabulkan permohonan itu.

Adam memohon kepada Tuhan agar tidak menciptakan sesuatu yang lebih menakutkan ketimbang MAUT. Setelah ratusan tahun, permohonan Adam dikabulkan.

Lalu Tuhan menciptakan CINTA.
CINTA yang terlihat sebagai sesuatu yang indah dan penuh bahagia. Lalu Adam sangat senang, dia berkata pada Tuhan,”Engkau telah menciptakan sesuatu yang sangat indah. Aku lupa segalanya. Aku hanya melihat CINTA. Bahkan aku bisa melupakan MAUT dan kengeriannya! Terima kasih Tuhan!”

Kalau saat itu aku sudah diciptakan, maka aku akan berkata pada Adam,”Tidak ada kebahagiaan didalamnya. Kesenangan itu hanyalah kepahitan yang tertunda. Pahitnya melebihi pahit empedu kita. CINTA lebih kejam dari MAUT. MAUT terasa sebentar, tapi CINTA terasa sangat lama. CINTA begitu menyiksa. CINTA adalah penderitaan. Love is PAIN.”

October 5, 2005

Elfreda dalam luka lama

bidang: love

Sulit sekali bicara dengan Ade. Dari dulu lelaki itu punya sifat yang keras kepala. Sangat keras kepala. Kalau Elfreda sudah berargumen dengannya, bisa-bisa Ade tidak akan pernah mau mengalah. Elfreda tahu dia harus berbicara dengan Ade. Harus. Walaupun akhir-akhir ini Ade cuek bebek dengannya.

Sore itu Elfreda berhasil memaksa Ade untuk bertemu dengannya di sebuah taman. Ade datang terlambat. Mukanya masam. Pasti dia sangat keberatan bertemu dengan Elfreda sekarang.

Elfreda:

August 25, 2005

arti dari sebuah kata itu

bidang: love

Kata itu muncul begitu saja antara aku dan dia. Kata itu tidak memberikan tanda-tanda sebelumnya padaku dan padanya. Bangsat itu, dia telah berani membuat kata itu nyata dimataku. Bangsat itu telah memperlihatkan sebuah kata yang terlalu semu didepan hidungku. Kata yang agung dan juga semu.
CINTA.

Hanya lima huruf. Bagiku dan si bangsat itu tidak mempunyai arti apa-apa. Tapi mempunyai sebuah ikatan. Padahal si bangsat itu tidak mau membuat suatu hubungan apapun denganku. Aku pun sepertinya tidak punya keinginan untuk terikat hanya demi seorang bangsat seperti dia.
Tapi lima huruf itu mengikat kami dengan paksa. Sangat egois! Kata itu tiba-tiba muncul dan mengikat hati kami dengan tali kawat dari baja. Sakit dan mengakibatkan kami seperti berada di dunia kami sendiri. Aku jadi tak suka. Lama-lama aku makin dekat dan merasa ingin dekat dengan si bangsat. Bahkan aku rela membiarkan semuanya menjadi miliknya. Berkali-kali aku menangis menjerit hanya gara-gara kata itu. Aku benci kata itu. Benci.
Kami makin dekat. Padahal aku tidak suka dengan si bangsat. Dia terlalu klise untuk dicintai. Dia hanya pantas dibenci. Tapi gara-gara kata itu, aku malah berbalik menyayanginya.
Kadang dalam mimpiku pun aku merindukan si bangsat. Kurang ajar sekali! Rasanya hatiku tergedor untuk bertemu dan melihat wajah si bangsat. Rasioku sama sekali diam tidak bergeming. Hanya hatiku yang diselimuti rasa yang aneh dan egois dari kata itu.
Lima huruf yang mematikan. Tidak ada yang lebih menyakitkan seperti lima huruf itu. Tidak ada yang lebih menyengsarakan hati seperti lima huruf itu. Aku tahu segalanya akan terasa perih, tapi seolah rasioku mati.
Kata yang bisa membuat jiwa raga lumpuh. Kata yang menusuk tulang, memecahkan atom, menindas otak, dan memasung hati. Kata yang seharusnya semua orang benci. Kata yang dijadikan tameng dari segala ketakutan dan sakit neraka.
C I N T A.
Si bangsat itu sangat sering menyebut kata itu. Saat kami bercinta. Saat kami marah. Saat kami bercanda. Kebiasaan buruk yang terdengar indah di telingaku. Kebiasaan yang lebih buruk ketimbang merokok atau membunuh orang.
Aku tak ingin terbelenggu kekosongan dari kata-kata itu. Aku ingin secepatnya bebas dari kurungan si bangsat. Aku ingin menghapus kata itu dari jiwa ragaku. Kata itu mengerikan dan prakteknya pun menyeramkan. Seolah aku siap diterjang dan dimakan kapan saja, oleh si bangsat atau oleh kata itu.

August 5, 2005

kakek

bidang: love

Aku menarik-narik ujung daster mama. Aku tahu mama sedang tidur, tapi aku ingin mama bangun sebentar saja untuk mendengarkan ceritaku. Akhirnya mama bangun juga. Matanya disipit-sipitkan. Dia tersenyum saat melihatku.
“Ada apa, Hid? Kok bangunin mama?”
Aku naik ke tempat tidur mama dengan hati-hati, takut papa terbangun.
“Sini, duduk di tengah.”
Aku menurut. Mama duduk dan memelukku. “Ada apa sayang? Mimpi apa?”
Aku menunduk memulai ceritaku dengan suara pelan. “Ma, aku ketemu kakek lagi…”
Mama melepaskan pelukannya. Dia menatapku dengan pandangan heran. “Wahid ketemu ama kakek lagi?”
Aku mengangguk takut-takut. Aku takut mama jadi marah. Mama selalu kesal kalau aku bercerita bahwa aku bertemu kakek.
Aku menunduk lebih dalam. Mama mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. “Wahid tidur aja. Udah malem. Besok kan Wahid harus sekolah… Nanti di sekolah ngantuk, gimana…”
Ternyata kali ini mama tidak marah. Mungkin karena sudah malam. Aku memeluk mama dan mencoba tidur.

—-

Pagi itu mendung menggantung. Pasti akan hujan. untung hari ini hari libur, jadi aku engga perlu sekolah basah-basahan. Tapi kalau mendung begini jadi males main. Maunya sih tidur lagi, tapi kalau tidur lagi nanti mama bisa marah.
Aku lihat mama sedang sibuk di dapur. Dia sedang asyik mencoba resep baru. Katanya sih tadi dia ingin mencoba membuat pasta italia yang asli. Aku tidak begitu paham soal pasta, tapi mungkin makanan yang enak.
Bosan sekali! Engga mau main. Hmmm ngapain ya? O ya! Nonton DVD aja! Aku mau nonton Samurai X lagi…

Wah! Diluar hujan juga akhirnya. Nonton DVD hujan-hujan begini asyik juga. Tapi engga seru kalau nontonnya sendirian! Mau manggil Aryo, pasti dia ogah kesini. Ya sudah deh. Nonton sendirian aja.
Wah udah setengah jam nih nonton, tapi mulai bosen. Aduh kok badan tiba-tiba dingin ya? Apa karena kakek mau datang lagi?
Ada yang mencolek tangan kiriku! Oh ternyata kakek. Dia tersenyum ketika aku menoleh. Seperti biasa, aku mencium tangannya lalu dia membelai rambutku dengan sayang.

Kakek memang sangat baik. Dia menemaniku nonton. Dia juga sering memelukku dan membelai rambutku. Kakek tidak pernah bicara saat aku mengajaknya bicara. Dia juga tidak pernah menjawab pertanyaanku. Dia hanya bisa menggeleng atau mengangguk. Aku pikir mungkin kakekku bisu. Tapi tidak apa, asal dia menemaniku nonton. Walaupun aku lihat kerutan dahinya makin terlihat setiap melihat adegan perkelahian.
Mama menghampiriku dengan tangan penuh mangkok. Sepertinya pasta buatannya sudah selesai. Dan kelihatannya enak. Mama duduk disebelah kananku dan menyodorkan semangkuk pasta.
“Ini. Makan dulu ya. Cobain. Ini asli buatan mama.”
Mama tersenyum lebar melihat aku menyuapkan sesendok pasta kedalam mulutku. Rasanya agak aneh tapi enak juga.
“Enak, Ma!” kataku. Senyum mama makin lebar.
“Pasti enak dong. Kan buatan mama.” Mama juga mulai makan pastanya sendiri.
Enak nih! Lumayan deh makan pasta mama sambil nonton DVD. Eh aku sampe lupa sama kakek. Aku menoleh ke kiri. Oh, kakek masih ada. Tapi tatapan matanya aneh. Tatapannya lurus ke depan, melewatiku. Saat kakek sadar aku sedang melihatnya, dia langsung menatapku dengan penuh senyuman.
Aku menawari kakek pasta, tapi kakek menggeleng.

“Kamu ngomong ama sapa sih, Hid?” Mama menegurku.
“Ngomong sama kakek, Ma.” jawabku. Ups! Aku lupa! Wah mama bisa marah nih… Tuh kan mama keselek.

—–

Mama terbaring lemah di kamar rumah sakit ini. Aku gak suka rumah sakit. Bau obat sangat menyengat! Tapi aku mau menemani mama. Kasihan dia sendirian. Hari ini papa baru menjenguk mama sekitar jam tujuh malam. Aku saja sudah bolos dua hari nih. Tapi engga apa-apa kok untuk menemani mama yang sedang sakit.

Mama menatapku dengan tatapan yang lemah. Dia terlihat pucat. Apalagi baru saja suster yang gemuk tadi menyuntiknya. Pasti suntikan obat. Mama membelai rambutku. Bibirnya kering.
“Mama mau minum?” tawarku. Mama menggeleng.
Hawa rumah sakit yang penuh obat berubah menjadi hawa yang dingin. pasti kakek datang lagi! Tuh kan bener! Dia sudah berdiri di sebelah kiriku dengan senyum khasnya. Aku mencium tangannya, dia membelai rambutku.
Sepertinya kakek agak lain hari ini. Dua hari yang lalu dia tidak seputih ini. Wajahnya lebih putih bersih dan lebih bercahaya.

“Wahid…” Mama memangil namaku pelan.
Aku menoleh melihat mama lagi.
“Mama mau tanya…”
“Tanya apa Ma?”
“… Kamu masih sering ketemu ama kakek?”
Aku mengangguk takut-takut.
“Kenapa kamu engga cerita lagi ke mama kalau kamu ketemu kakek?”
Aku terdiam. Menelan ludah. Apa mama akan marah ya?
Mama mendesah pelan. “Terakhir kamu ketemu kakek kapan sayang?”
“Mmmmm…. mmmm..”
“Ngomong aja sayang. Mama ngga akan marah…”
“Sekarang kakek juga ada disini Ma..”
Mama terkejut. “Disini? Dimana?” Mama mencari-cari sosok kakek.
“Disebelah kiri Wahid, Ma…”
Mama melihat ke sebelah kiriku dengan ragu. Alisnya berkerut. “Lagi ngapain dia sayang?”
Aku melihat kakek. Kakek sedang menatap mama! Tapi tatapannya aneh. Alis kakek berkerut-kerut. Seperti sedang menahan marah. Mulutnya komat-kamit tapi aku tidak mendengar suara apapun.
“Wahid… Kamu lihat kakek?” Mama memandangku dengan penuh keheranan. Aku merasa mama menatapku agak ngeri.
Aku mengangguk.
“Kakek lagi apa?”
“Kakek lagi liat mama…”
Mama menelan ludah. Lalu mama menunduk, sepertinya dia akan menangis. Wah ada apa nih? “Mama kenapa? Mama nangis?”
Mama menggeleng. “Kasih tahu mama, Hid. Kakek mandang mama dengan muka kayak apa?”
“Kayaknya dia marah ama mama… Mulutnya komat-kamit tapi Wahid engga denger apa-apa.”
Mama menunduk. Air matanya mulai jatuh. Aku jadi serba salah.

—–

Seminggu setelahnya aku diajak mama ke suatu tempat. Aku baru pulang sekolah, tapi tiba-tiba mama menarikku. Mau ke tempat kakek, katanya. Wah, ada apa ya?
Aku dan mama tidak pake mobil tapi pake angkot ke rumah kakek. Ternyata rumah kakek jauh juga! Butuh empat jam perjalanan! Sampai-sampai baju sekolahku tidak putih lagi.
Rumah kakek itu ternyata kecil ya. Aku belum pernah kesini. Rumah yang sederhana dengan halaman sempit. Aku melihat banyak orang berkerudung dan berpeci disana. Ada acara apa ya?
Mama menggenggam tanganku kuat-kuat. kami mulai memasuki rumah kakek, melewati kerumunan orang yang berkerudung dan berpeci. Mama terpaku saat melihat sosok yang ditutup kain ditengah ruangan.
Mama menjerit lalu memeluk sosok itu dan menyebut ‘bapak’ berkali-kali.
Mama menjerit. Dia menangis tersedu-sedu. Belum pernah aku melihat mama menangis seperti itu.

July 28, 2005

ibu

bidang: love

aku punya seorang ibu yang sangat baik
dia selalu membuatku merasa nyaman dan tenteram
ketika hatiku sakit
karena dimarahi oleh ayah yang suka mabuk dan main perempuan

aku punya ibu yang sangat sabar
kalau dia dipukuli ayah, dia diam saja
dia hanya menangis
dan berdoa semoga ayah diberi petunjuk yang benar

aku punya ibu yang pengertian
saat ayah lari dengan perempuan lain
saat ayah memuji kecantikan wanita lain
saat aku suka mengadu padanya tentang kelakuan ayah yang suka bermain dengan pelacur

aku punya ibu yang jago masak
dia bisa memasak apa saja
aku selalu suka masakannya
ayah saja yang tidak pernah suka masakannya

aku punya ibu yang sering menangis
dia menangis kalau aku nakal
dia juga menangis saat ayah pergi meninggalkannya
dia juga menangis saat aku disakiti ayah

aku sayang ibu tapi aku benci ayah
tapi aku tak mau menjadi anak yang dikutuk oleh ayah
kata ibu, aku harus berbakti dan sopan terhadap ayah
walaupun ayah sering menampar dan memukulku

aku cinta ibu
walau sekarang dia sudah tiada

July 22, 2005

Anya

bidang: love

“Pernahkah kamu melihat bulan dari dekat?”
“Blum pernah…”
“Sebentar lagi kau akan lihat bulan dari jarak yang sangat dekat.”
“Gimana caranya?”
“Gampang. Sekarang tutup matamu. Apapun yang terjadi kamu tidak boleh membuka matamu.”
“Trus bagaimana aku bisa melihat bentuk bulan?”
“Kau akan merasakannya. Kau akan melihatnya didalam hatimu.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seseorang lelaki tua yang berkumis tebal dan sering disapa dukun pijat oleh warga kampungnya. Waktu itu usia Anya sekitar 14 tahun. Dukun pijat itu bisa memperlihatkan bentuk bulan kepadanya. Dia senang si dukun mau berbaik hati memperlihatkan bulan padanya. Dia senang tapi juga merasa aneh. Dia merasakan keanehan pada tubuhnya ketika dia memejamkan matanya rapat-rapat.

*******

“Kamu mau uang ngga?”
“Mau, Bang!”
“Ini, abang kasih duit.”
“Wah banyak betul Bang!”
“Semuanya buat kamu.”
“Asik! Semuanya buat Anya!”
“Tapi ada syaratnya, kalau kamu mau uangnya sekarang.”
“Apa Bang? Anya gak mau loh disuruh mencuri…”
“Mencuri? Kenapa harus mencuri?”
“Soalnya Anya dilarang sama emak buat nyuri!”
“Anak pinter. Abang engga nyuruh nyuri kok. Abang cuman mau kamu tiduran aja di bangku beakang.”
“Ngapain Bang? Anya gak mau bobo disitu!”
“Abang gak nyuruh kamu bobo. Abang cuman pengen kamu tidur trus meremin matanya kuat-kuat. Nanti kalau kamu nurutin Abang, Abang kasih duitnya semua.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seorang supir berbadan kurus dekil dan sering disapa Bang Jon dikampungnya. Waktu itu usia Anya sekitar 10 tahun. Sopir itu baik sekali sampai mau memberi Anya uang. Tapi Selain rasa senang, Anya juga merasa aneh. Dia merasakan perutnya nyeri.

********

“Anya mau permen gak?”
“Mau!”
“Sini dong samperin Om!”
“Asik!”
“Tapi kalo Anya mau permen, Anya harus mau Om pangku ya!”
“Kok Anya dipangku?”
“Biar Anya enak makan permennya.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan Om Pras. Waktu itu umurnya sekitar 6 tahun. Om Pras adalah salah satu ipar dari ibunya. Om Pras senang bertandang ke rumahnya. Om Pras sering memberinya permen yang manis, tapi selalu dengan syarat harus mau dipangku. Biasanya setelah dipangku permen Anya sudah habis dan badan Anya agak sakit di bagian pinggangnya.

*******

“Tenang saja, kita bakalan nikah kok.”
“Tapi kalo engga nikah ntar gimana? Aku malu loh Mas!”
“Pasti deh. Aku kan udah sayang banget sama kamu.”
“Gombal!”
“Kok gombal? Aku jujur dari hati sanubariku.”
“Kalo sayang, kita nikah aja sekarang. Abis nikah, baru kita bisa berduaan kayak gini.”
“Sekarang kan juga bisa berduaan. Nanti pasti kita nikah kok.”
“Kapan Mas? Aku udah gak enak nih perasaannya ngelakuin begini terus.”
“Tenang aja. Aku tuh dah cinta berat sama kamu. Engga akan ninggalin kamu.”
“Janji?”
“Janji.”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan Mas Edi. Waktu itu umurnya baru 17 tahun. Mas Edi sangat sayang padanya. Anya juga sangat perhatian padanya. Sampai-sampai Anya mau menemani Mas Edi di dalam kamar kontrakan Mas Edi semalaman. Hal itu tidak hanya terjadi sekali saja tapi berkali-kali.

******

“Kamu cantik banget deh…”
“Masak?”
“Iya! Kamu itu makin cantik…”
“Berarti Bapak harus bayar lebih.”
“Gampang deh! Duit itu urusan mudah! Asal kamu mau sama aku sekarang…”
“Ya udah. 3 juta ya… ”
“Boleh. Ditambah dengan belanja apa saja yang kamu suka…”
“Oke!”

Itulah sepenggal percakapan Anya dengan seorang bapak pejabat. Pejabat itu begitu terpesona melihat Anya. Anya pun sudah setuju dengan harganya. Mereka bermalam berdua di sebuah suite yang mewah.

July 19, 2005

Obrolan selepas senja

bidang: love

Aku ingat saat itu. Saat aku bertemu dengan Retno. Kami bercakap-cakap seperti biasa, padahal kami sama-sama merasakan satu perasaan yang pahit.

Waktu itu hari menjelang senja. Matahari mulai turun dari singgasananya. Aku dan Retno duduk di teras rumahku yang menghadap ke pemandangan pantai yang luas disana. Sore yang sunyi. Tapi kami berusaha mengobrol menghilangkan rasa sunyi yang menggigit itu.

Aku: Pantainya indah kan,Ret?
Retno: (mengangguk)
Aku: Tuh kan! Aku ajak kamu dari taon kemaren kesini tapi kamu engga mau sih!
Retno: Yaaa… Maaf! Habisnya kan suamiku engga ngebolehin,Vir! Lagian aku harus ngurus segala sesuatu di rumah besar itu. Sampai-sampai badanku rasanya remek.
Aku: Masak? Alasan ajah kali! Kamu ajah yang ngga mau…
Retno: Ah suwer kok, Vir! Kamu kok ga percaya gitu sih? Emangnya aku keliatan seperti pembohong?

Aku melihat Retno mencibir. Dia masih sama. Masih suka ngambek dan cepat tersinggung. Kalau sudah begitu, pasti dia mencibir.

Aku: (tertawa) Memang kamu bohong kok!
Retno: (mengangkat sebelah alisnya) Masak? Aku kok engga nyadar ya? Kapan aku bohong hayo? (tangan Retno mencubit gemas lenganku yang kurus)
Aku: Kapan pun kamu mau. Kayak sekarang ini…

Retno menatapku terheran-heran. Mungkin dia kaget nada suaraku berubah menjadi serius.

Retno: Memangnya kamu masih marah ya?
Aku: Soal apa?
Retno: (tiba-tiba emosi) Kok pura-pura engga tahu sih?
Aku: (heran) Loh kok malah marah sih?
Retno: Habisnya kamu begitu..
Aku: Begitu? Begitu bagaimana?
Retno: Kamu itu! Pura-pura engga tahu! Dari dulu kamu juga begitu!
Aku: Aduh aduh… sabar dong neng… Engga tahu soal apa?
Retno: Soal aku! Soal kita berdua!

Aku baru paham maksud Retno. Dia ingin mengenang masa-masa ketika kami masih pacaran dulu. Masa yang sulit digantikan. Masa yang merebut seluruh isi badanku.
Aku menunduk. Tak berani menatap mata Retno.

Retno: (mendesah) Bagaimana kamu bisa pura-pura engga tahu sebab aku datang kemari. Kamu kelewatan, Vir…

Aku melihat matahari makin tenggelam. Pancaran warnanya mengagumkan.

Retno: Tuh kan kamu begitu! Pura-pura engga mau dengar. Persis seperti dulu waktu aku bicara soal calon suamiku!

Aku melihat Retno mencibir. Pasti dia kesal. Mungkin dia berharap pertemuanku dengannya sekarang adalah pertemuan yang indah dan romantis. Hanya berdua menikmati pantai indah ini. Saling berbagi rasa….

Retno: (bergumam)
Aku: Kamu ngomong apa? Gak kedengeran nih…

Rasanya Retno sudah tidak marah lagi.

Retno: Dulu kita itu solid,Vir! Kemana-mana selalu berdua. Kita sering curhat. Sering ngobrol. Sering komunikasi. Tapi waktu kamu denger aku mo merit, kamu seolah makin cuek. Makin engga mau denger penjelasanku. Padahal kan kita saling suka. Kamu sayang engga sama aku?
Aku: Sayang.
Retno: Kalau kamu sayang sama aku, kenapa kamu mesti ngebiarin aku sendirian? Engga peduli saat aku mo merit? Bahkan kamu engga hadir waktu aku merit!
Aku: (menjawab pelan) Aku sedang ada tugas keluar daerah…
Retno: (memotong) Bohong!

Aku benar-benar tidak menyangka Retno akan berteriak.

Retno: (mulai terisak) Kamu menghindar dariku! Kamu engga menghargai aku! Kamu juga engga sayang lagi sama aku!
Aku: (mendesah) Sudahlah….
Retno: Mana bisa sudah? Aku masih simpan rasa kangen sama kamu sampai sekarang. Walaupun dah ada suami! Kamu tahu itu artinya apa? Aku sayang banget sama kamu, Vir…

Kali ini Retno benar-benar terisak. Air matanya mulai turun.

Aku: Aku tahu.
Retno: Kalau kamu tahu, kenapa kamu engga mencoba menghentikan semua ini. Kita berdua lagi! Bersama lagi!
Aku: Engga bisa…
Retno: (sesenggukan) Kenapa? Kenapa?
Aku: Karena cinta sejenis itu tidak bisa bersatu, Ret…

Retno menangis sejadi-jadinya. Aku menggenggam kedua tangannya. Aku tahu dia tak bisa melawan takdir untuk menikah dengan seorang lelaki. Padahal dia mencintaiku yang juga seorang perempuan sepertinya…

Matahari sudah tidur. Senja telah lewat. Senja itu sangat menyakitkan.